Bener MeriahGAYO

Aktivis Perempuan: Miris, Anak yang Jadi Korban Perkosaan di Bener Meriah Tak Didampingi P2TP2A

Penulis: Iwan Bahagia

BENER MERIAH, SUARAGAYO.com – Kasus pemerkosaan seorang remaja berstatus pelajar yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, baru-baru ini ditanggapi aktivis Koprs-HMI-Wati (KOHATI) HMI Cabang Takengon.

Melalui siaran persnya, organisasi yang bergerak di bidang isu perempuan di Aceh Tengah dan Bener Meriah itu mempertanyakan kinerja P2TP2A Bener Meriah.

“Kita kecewa terhadap petugas pendamping P2TP2A karena tidak mendampingi anak korban pemerkosaan baik secara hukum dan psikologis,” ucap Dewi Riani, Ketua KOHATI HMI Cabang Takengon, melalui siaran persnya, Kamis (10/9/2020) malam.

Sebuah instansi pemerintah yang memilili tugas dan fungsi mendampingi anak tersangkut hukum, mestinya harus diterapkan dengan baik agar masyarakat tidak merasa kecewa.

“Kasus kekerasan seksual sering terjadi terhadap anak di Bener Meriah, kepada Pemkav Bener Meriah diharapkan dapat meningkatkan pengawasan kerja oleh pihak terkait,” sebut Dewi.

Dewi Riani, Ketua KOHATI HMI Cabang Takengon.

Jika memang tak membela hak anak perempuan, maka rombak total personal P2TP2A karena masyarakat butuh pendamping hukum.

Apalagi dalam kasus pemerkosaan dua ABG terhadap seorang remaja sudah terjadi sejak akhir Juni 2020.

“Mengapa sampai pengadilan tidak didampingi? Paralegal kemana saja? Kok bisa luput?, kalau baca berita kasihan sekali, orang dari kampung tak tahu apa-apa, takut melapor, tidak ada yang mendampingi. Miris sekali,” sebut Dewi.

KOHATI HMI Cabang Takengon lanjut Dewi, mengajak para aktivis perempuan di Bener Meriah bersatu padu memerangi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang kerap terjadi di Bener Meriah.

“Para aktivis perempuan harus bersatu. Ini bukan masalah sepele, sudah sering terjadi di Bener Meriah. Masa depan anak-anak, apakah terus dibiarkan?” tegas Dewi.

Pihaknya berharap, pendampingan terhadap keluarga korban kekerasan seksual dapat dilakukan oleh P2TP2A beserta lembaga lain terkait perempuan dan anak.

“Sekali lagi, evaluasi paralegal yang bertugas. Kalau bisa cari yang berkualitas dan teruji. Evaluasi sektor-sektor yang bermasalah di P2TP2A. Mari sensitif soal perempuan dan anak,” ungkap Dewi.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button