Sejarah

Asal Muasal Nama Kampung Wihni Durin

Penulis: Desi Mentari

Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, adalah wilayah yang berada di dataran tinggi Gayo.

Kota ini memberikan pesona keindahan alamnya dan memiliki beragam kisah menarik.

Kisah yang akan diceritakan kali ini adalah tentang sebuah kampung di takengon, Aceh Tengah, yang bernama Kampung Wihni Durin.

Kampung ini terletak di Kecamatan Silih Nara yang memikiki jumlah penduduk sekitar 600 jiwa, dengan mayoritas warganta berprofesi sebagai petani.

Hamparan persawahan yang luas merupakan tempat penduduk mencari dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Pegunungan yang hijau mereka jadi kan tempat usaha sebagai petani kopi.

Kampung Wihni Durin merupakan desa penghubung antara Jalan Angkup dengan Blang mancung.

Kampung tersebut menjadi ramai karena jalan lintas bagi masyarakat yang melintas.

Kampung Wihni Durin memilki jalan pintas yang dapat di tempuh dengan waktu yang singkat menuju ibukota Aceh Tengah, Takengon, yaitu jalan Tajuren yang berhubungan dengan Kampung Atu Gajah.

Selain itu, lintasan ini menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menghemat waktu dalam perjalanan.

Namun dibalik akses jalan, mungkin hanya sedikit yang tahu asal muasal kampung tersebut.

Asal muasal Kampung Wihni Durin ternyata memiliki kisah menarik menurut sesepuh masyarakat setempat, Abdul mutalib Aman Asdi (75).

Nama kampung ini ternyata terkait dengan durian, salah satu tanaman yang tidak tumbuh dan berbuah di daerah itu.

Kalaupun tumbuh, tidak berbuah besar dan hanya menjadi tanaman layaknya pohon biasa.

“Kampung Wihni Durin dahulu kala merupakan hutan yang banyak terdapat gajah, beberapa orang ingin membuka hutan tersebut sebagai perkebunan dan sebuah kampung,” kata pak abdul mutalib membuka kisah.

“Orang tersebut masing-masing memiliki marga, yaitu Munthe Lot, Munthe Padang dan Munthe Gayo. Mereka berjumlah sekitar 15 orang. Hingga suatu ketika di saat mereka sedang membuka ladang perkebunan di hutan (wihni durin), salah satu dari mereka membawa sebuah durian yang berukuran sedang dari daerah Ketol,” jelas Aman Asdi.

Orang itu ingin menyembunyikan duriannya dari kelompok petani itu. Namun apa lacur, bau dari durian sangat keras tercium oleh salah satu dari rekannya yang lain,”

“Bukan tidak mau membagiakan durian tersebut akan tetapi jika dibagi maka tidak akan terbagi rata dengan jumlah durian hanya sebuah sedangkan orang yang ada pada masa itu lima belas orang,” sebut tokoh yang biasa dipanggil Aman Asdi itu.

Saat makan siang tiba, masing-masing dari mereka mengeluarkan nasi yang dibungkus dengan daun anyaman kas yang dalam istilah Gayo disebut ‘Tape’.

Salah satu dari mereka melihat orang tersebut membawa durian, dan kemudian tersebar informasi kepada rombongan yang lain.

Ternyata, semua dari mereka telah mencium bau buah durian tersebut.

Pemilik durian kemudian mengeluarkan durian itu dari tas yang juga terbuat dari anyaman.

Bisa jadi pertanyaan muncul dari benak mereka semua, bagaimana cara membagikan satu buah durian secara merata?

Musyawarah di lakukan oleh ke lima belas orang tersebut, untuk menjawab pertanyaan itu.

“Hasil musyawarah mereka adalah, isi durian tersebut di hancurkan didalam suatu wadah dan dicampur air serta garam sedikit sebagai perasa,” papar Abdul Muthalib.

Akhirnya ide tersebut diterima oleh kelompok petani itu. Usulan itu langsung dikerjakan. dan hasil dari air durian di bagikan kepada ke lima belas orang secara merata,” terang pak Abdul Mutalib Aman Asdi.

Masalah menikmati buah durian selesai, mereka kemudian kembali berunding tentang rencana pembukaan perkebunan disebuah lokasi yang belum diberi nama.

“Salah satu dari mereka memberi saran lokasi itu dinamai Wihni Durin. Karena nama itu dianggap cocok untuk kampung yang akan dirintis ini, kelima belas orang tersebut setuju akan saran itu,” ungkap Abdul Mutalib.

Kata ‘Wihni’ dalam Bahasa Gayo jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Airnya’. Sedangkan ‘Durin’ berarti durian.

Sehingga tercetuslah nama lokasi itu menjadi ‘Wihni Durin’ yang berarti ‘Air Durian’.

“Itukah asal muasal kampung Wihni Durin, saya ingat betul cerita itu dari almarhum tengku ngaji saya zaman dahulu,” papar pak Abdul Mutalib seolah kembali ke masa silam.

Lokasi yang semula menjadi wilayah perkebunan rombongan bermarga tersebut kini telah menjadi nama salah satu kampung di Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah.

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close