EkonomiGAYOTakengon

Bako Gayo Selamah Since 1966, Pernah Pasok 2 Ton Tembakau ke Sumatera Utara

Penulis : Zuriana Munthe

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Gayo bukan hanya kopi. Gayo punya cerita lain yaitu tembakau. Dalam bahasa lokal populer disebut bako.

Gayo Mountain Cigar, cerutu lokal ini kembali mengharumkan nama bako Gayo yang pernah populer tahun 1966 silam. Cerutu itu diresmikan 3 Desember 2020 lalu di Aceh Tengah. Produk lokal yang mencoba peruntungan dikancah dunia.

Bagi masyarakat Gayo, sesungguhnya bako bukan barang baru. Lihat pula lagu populer “Tawar Sedenge” ciptaan Almarhum Ar Moese itu. Lirik bako ternukil jelas dalam syair lagunya.

Rum batang nuyem si ijo, kupi, bakoe” (dengan batang Pinus yang hijau, kopi, dan tembakau). Lagu ini diciptakan pada Tahun 1957 oleh almarhum AR Moese, era kejayaan kopi dan tembakau seiring sejalan.

Karena itu, Suaragayo.com, menurunkan kisah pedagang bako puluhan tahun di dataran tinggi itu.

Mereka adalah Selamah (70) dan suaminya almarhum Abdul Ghani (80) di Simpang Empat Bebesen, Takengon, Aceh Tengah.

Tembakau milik Selamah yang siap dijual. (Foto: Zuriana Munthe)

Pasangan ini mulai berjualan bako sejak 1966. Lokasinya tak pernah berpindah. Tetap di Simpang Empat Bebesen.

Di lokasi rumahnya. Lakon hidup membuatnya setia jual-beli bako Gayo. Sejumlah rak penyimpanan bako masih terlihat di rumah itu. Merekalah generasi awal toke tembakau Gayo.

“Dulu kami pemasok terbesar bako ke sejumlah toko. Itu dari Aceh Tengah sampai ke Bener Meriah sekarang,” kenang Selamah melambung ke puluhan tahun silam.

Bahkan mereka bisa menjual sekitar 2 ton bako. Area pun mencapai Sumatera Utara.

“Di Sumatera Utara, area jualan suami saya dulu sampai ke Medan, Siantar, Padang Sidempuan dan Dolok Sanggul,” sebutnya. Sang suami meninggal dunia 2016 lalu.

Hasil panen petani tembakau diangkut dengan bus ke Medan per dua kali dalam seminggu.

Selamah bersama seorang putranya. (Foto: Zuriana Munthe)

Mereka pula menjadi acuan harga jual tembako di kawasan itu. Toke skala kecil merujuk harga beli yang digunakan Selamah dan suaminya.

Waktu sudah berubah. Namun Selamah tetap setia bernisnis bako. Dia membeli dari petani di kawasan Lampahan Kabupaten Bener Meriah dan kawasan Bintang Kabupaten Aceh Tengah dengan harga Rp 250 ribu per kilogram.

Bako ini bako kering. Bukan bakau dengan kadar air tinggi atau lebih dikenal dengan sebutan bako ijo ( tembakau hijau).

“Tembakau masih bisa diandalkan. Kita masih bisa menjadi pemain di industri ini,” pungkasnya bangga.

Editor : Aman Dimas

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button