HukumTakengon

Bila Laporan Tidak Dicabut Bupati, Proses Hukum Terhadap Wabup Aceh Tengah Tetap Berjalan

TAKENGON, SUARAGAYO.com – Perdamaian yang terjadi antara Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar dengan Wakilnya, Firdaus, diharapkan dapat memberikan kenyamanan dalam roda pemerintahan di Kabupaten Aceh Tengah.
Hal itu dikatakan Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada saat diwawancara Suaragayo.com, usai menerima Tim Pansus DPRK Aceh Tengah dan Bupati/ Wakil Bupati Aceh Tengah, Shabela-Firdaus, Jumat (17/7/2020).

Menurut Wahyu, sebelum kasus ini bergulir dikepolisian pihaknya sudah mengingatkan agar Shabela tidak memperpanjang kasus ini apabila masih bisa berdamai.Meski sudah disarankan, namun hak Shabela untuk sebagai warga negara untuk melaporkan kasus itu tidak dapat diganggu gugat.
“Kalau Polda itu kan sebagai penegak hukum, kita saat itu mendapat laporan dari Pak Shabela. Proses hukum yang berjalan disini masih berlangsung sebelum ada pencabutan,” jelas Wahyu Widada.

Pihaknya mengaku sudah berkomunikasi dengan Shabela sebagai pelapor kasus pengancaman oleh wakilnya di eksekutif untuk bisa menyelesaikan kasus itu dengan jalan damai. Namun karena Bupati Aceh Tengah tersebut bersikeras melaporkan, maka pihaknya tidak dapat menahan hak seorang warga negara.
“Tetapi pada prinsipnya kita menyambut baik upaya perdamaian yang sudah terjadi. Karena dari awal pun sudah kita sampaikan untuk tidak dilaporkan. Saya kan sudah menunda kasus ini dua kali. Tetapi Pak Shabela tetap melaporkan. Karena itu haknya pribadi beliau, saya tidak bisa menahan terus,” ucap Kapolda.
“Polisi dalam hal ini tidak punya kepentingan. Karena masalah ini bukan antara polisi dengan bupati atau wakil bupati, tetapi antara seorang warga negara yang memang menjabat sebagai bupati dan wakil bupati,” ungkap Wahyu Widada.
Mengenai kesepakatan perdamaian, diantaranya terkait dengan pencabutan perkara oleh Shabela atas Firdaus, Wahyu mempersilahkan agar awal media untuk mempertanyakan langsung kepada Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar.
“Mengenai itu silahkan tanyakan ke Pak Bupati saja,” ucapnya.

Polda Aceh terang Wahyu Widada, mengapresiasi perdamaian yang telah disepakati antara Shabela Abubakar dan Firdaus pada 11 Juli lalu.Pihaknya juga merasa senang atas perdamaian yang dilakukan di DPRK Aceh Tengah saat itu, sehingga kedepan keduanya fokus dalam menjalankan pemerintahan.
“Saya harapkan dengan perdamaian ini memberikan kemaslahatan di Aceh Tengah, sehingga roda pemerintahan berjalan dengan baik. Bupati dan wakil bupati harus bersatu memikirkan kepentingan masyarakat,” tambah Kapolda Aceh.

Seperti diketahui, Bupati Aceh Aceh Tengah, Shabela Abubakat sempat terlibat keributan dengan wakilnya, Firdaus pada 13 Mei lalu, setelah Firdaus mendatangi pendopo saat Shabela sedang melakukan pertemuan dengan sejumlah Kadisnya.

Shabela mengaku mendapat ancaman bunuh dari Firdaus yang datang bersama adiknya, Khairul. Firdaus kala itu menyinggung soal proyek senilai 17 miliar dan kebijakan bupati yang dianggap tidak sesuai dengan keiginannya sebagai wakil bupati.

Shabela kemudian melaporkan ke polisi kasus itu ada 27 Mei lalu ke Polda Aceh. Laporan itu terkait dengan ancaman bunuh yang diterima Shabela bersama keluarganya dipendopo bupati oleh Firdaus dan adiknya.
Keduanya kemudian didamaikan oleh Pansus DPRK Aceh Tengah dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRK Aceh Tengah pada 11 Juli lalu di ruang sidang dewan setempat.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button