GAYOSejarahTakengon

Ditulis Belanda, Ada Pejuang Perempuan yang Ikut Bertempur di Tanah Linge

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Pertempuran selama dua hari dua malam antara tentara kolonial Belanda dengan pejuang Gayo pernah terjadi di kawasan Linge, Aceh Tengah.

Peristiwa itu terjadi sekitar 116 tahun lalu, tepatnya pada Agustus 1916.

Perang tersebut merupakan wujud kebangkitan perlawanan Linge melawan kolonialis Belanda.

“Ini peristiwa bersejarah di Gayo, penting untuk diperingati, dibahas, diketahui masyarakat Gayo, supaya jadi ingatan kolektif, dan bisa diwariskan ke generasi Gayo mendatang. Karenanya, Pusat Kajian Kebudayaan Gayo menggelar Bincang Sejarah Kebangkitan Perlawan Linge,” kata Yusradi Usman al-Gayoni, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Sabtu (6/8/2022).

Pertempuran dua hari dua malam itu dipimpin oleh Said Abdullah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Aman Nyerang, bersama sejumlah tokoh perempuan, ulama perempuan sekaligus perempuan pejuang, dan Pengulu Mungkur

“Pada waktu itu, Belanda berencana membumihanguskan Linge. Terjadilah kebangkitan sekaligus perlawanan Linge. Perang pun pecah di Serule. Aman Nyerang dengan pasukannya berjumlah 6 orang, bersama sejumlah tokoh dan ulama perempuan, serta pasukannya Aman Nyerang yang berjumlah orang, serta Pengulu Mungkur yang juga membawa kurang lebih 13 orang. Seluruhnya yang terlibat perang mencapai 24 orang,” tutur Yusradi.

Dilanjutkan, Bincang Sejarah bertajuk Kebangkitan Perlawan Linge akan dinarasumberi seorang pemerhati sejarah Gayo sekaligus penelusur dokumen-dokumen Gayo yang tersimpan di Belanda, yakni Zulfikar.

Kemudian terkait perjuangan Aman Nyerang bersama pasukannya, Yusradi menyerahkan kepada para pihak yang peduli sejarah melakukan lawatan lawatan sejarah ke Serule.

“Kalau memungkinkan tanggal 9 atau 10 Agustus 2022 ini, bertepatan dengan perang di Serule tadi. Kalau tidak, di bulan Agustus 2022 ini, masih dalam momentum kemerdekaan RI. Selama di Serule, akan silaturahmi dan bertemu dengan Reje (Kepala Desa) dan tokoh-tokoh masyarakat Serule. Untuk memastikan, di mana lokasi perang 1916 tersebut,” sebut Yusradi.

Selain itu, untuk mengenang sejarah Aman Nyerang dan pasukannya, PKKG menganggap perlu dibangun sebuah prasasti, tugu, monumen atau museum Kebangkitan Perlawan Linge.

“Jadi, peristiwa bersejarah ini bisa jadi ingatan kolektif masyarakat Gayo. Terwujud dalam prasasti, tugu, monumen atau museum tadi. Alhasil, bisa diwariskan ke generasi Gayo pada masa mendatang. Lebih dari itu, diharapkan, tempat tadi bisa jadi wisata sejarah pada masa yang akan datang. Akibatnya, akan berdampak pada perkembangan sekaligus kemajuan Serule dan sekitarnya. Juga, berdampak pada perbaikan dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat,” tegas Yusradi.

Bincang Sejadah: “Kebangkitan Perlawanan Linge” Pusat Kajian Kebudayaan Gayo akan digelar secara terbuka melalui Zoom Meeting pada Senin malam, tanggal 8 Agustus 2022, mulai pukul 19:30-21.00 WIB, bisa diikuti melalui tautan Zoom Meeting berikut:
https://us02web.zoom.us/j/81742176424?pwd=c0NsaVpjV0FUVVlWdk1JbC8xNGxvQT09, Meeting ID: 817 4217 6424, dan Passcode: 406219

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button