BudayaGAYOTakengon

Salah Satu Film yang Dibintangi Ibrahim Kadir Pernah Menjadi 100 Film Terbaik Asia Sepanjang Masa

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.com – Pada tahun 2015, pengakuan dari dunia internasional didapatkan Film Puisi Tak Terkuburkan (Dalam bahasa Inggris diberi judul The Poet) yang dibintangi aktor asal Gayo, Aceh, Ibrahim Kadir dan disutradarai sineas ternama, Garin Nugroho.

Ditulis Berita Agar yang melansir BBC Indonesia, Kamis 13 Aguatus 2015, salah satu film arahan Garin yang berjudul Puisi Tak Terkuburkan terpilih sebagai penghuni daftar Asian Cinema 100 alias 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa.

Tidak ada penjelasan detil pada posisi berapa Puisi Tak Terkuburkan menghuni daftar yang akan diperbaharui setiap lima tahun itu.

Puisi Tak Terkuburkan yang dirilis 1999 pernah mendapat penghargaan Silver Leopard Video di Festival Film Internasional Locarno (2000) dan nomine Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival (2000).

Film yang bercerita tentang kisah nyata seorang penyair didong tepok, Ibrahim Kadir, yang dipenjara tahun 1965 di Tanah Gayo, Aceh, karena dituduh terlibat dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ibrahim Kadir menceritakan 22 kisahnya selama hari di dalam penjara, sampai saat ia dianggap salah tangkap dan akhirnya dilepaskan.

Tempo Interaktif  pada 28 Mei 2010 pernah menulis, sang sutradara, Garin Nugroho mengungkapkan bahwa film ini adalah manifesto politiknya terhadap peristiwa 30 September 1965, yang mengakibatkan banyak terjadi pelanggaran HAM berupa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh maupun dianggap ikut mendukung PKI.

“Idenya berawal dari keinginan saya menafsirkan kembali luka-luka sejarah,” tutur Garin kala itu.

Daftar 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa diumumkan oleh Busan International Film Festival dan Busan Cinema Center saat itu, sebagai salah satu bagian dalam merayakan dua dekade eksistensi salah satu ajang penghargaan film terbesar di Asia itu.

“Daftar ini dimaksudkan untuk jadi panduan nilai estetik dan sejarah sinema Asia dan menemukan mahakarya tersembunyi serta sutradara berbakat di Asia,” tulis Busan International Film Festival dalam rilis persnya di situs BIFF.

Mekanisme pemilihannya melibatkan 73 orang tokoh yang terdiri dari kritikus, programmer festival dan sutradara di Asia. Beberapa nama yang terlibat antara lain kritikus film Jonathan Rosenbaum, Tony Rayns dan Hashumi Shigehiko; serta sutradara Mohsen Makhmalbaf, Bong Joon-ho, dan Apichatpong Weerasethakul.

Masing-masing anggota panel merekomendasikan 10 film Asia terbaik versi mereka yang menghasilkan jumlah 113 judul film. Dari jumlah tersebut lantas disusun dalam rangking 100 besar.

Selain daftar 100 Film Asia Terbaik, lembaga yang sama juga menyusun daftar 100 Sutradara Asia Terbaik Sepanjang Masa. Nama sutradara andal asal Jepang, Yasujiro Ozu (60), menduduki peringkat pertama.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button