BudayaGAYOOpiniSejarah

Gayo, Tatanan Sosial ala Belanda dan Budaya yang Terancam Punah

Mengkaji Struktur Sosial Budaya Masyarakat Gayo

    Komandan militer dengan kepala desa disebuah rumah warga Suku Gayo di kampung Raweh (Rawe) di Danau Takengon. (Koleksi Museum Belanda)

 

Oleh: Win Wan Nur

Opini, Suaragayo.com – Wajah budaya dan sistem dan tatanan sosial kemasyarakatan di tanah Gayo yang kita lihat dan alami saat ini muncul dan berkembang karena peran besar Belanda.

Sebab Belanda yang berhasil menjajah wilayah Gayo, kemudian memperkenalkan atau memaksakan sistem sosial kemasyarakatan dan pemerintahan terpusat di Tanoh Gayo.

Belanda pula yang memaksa masyarakat Gayo mengadopsi sistem sosial kemasyarakatan sebagaimana yang berlaku di Jawa atau yang terdekat di Aceh pesisir.

Pemaksaan itu dengan cara mengharuskan rakyat tunduk dan patuh atas aturan seorang penguasa feodal lokal yang dikontrol oleh Belanda.

Sistem feodal atau dikenal dengan istilah feodalisme adalah pendelegasian sistem sosial politik kepada bangsawan/ monarki.

Dalam kasus di tanah Gayo, bangsawan/monarki ini diciptakan oleh Belanda dari reje-reje lokal yang sebelum kedatangan Belanda tak benar-benar memiliki kekuasaan dan perangkat kekuasaan yang nyata.

Sebelum kedatangan Belanda, wajah dari sistem sosial kemasyarakatan Gayo, sangatlah berbeda.

Sebelum kehadiran Belanda, masyarakat Gayo adalah sebuah masyarakat yang egaliter.

Hal itu dibuktikan dengan relasi antara sesama anggota masyarakat Gayo yang lebih bersifat komunal (berkelompok) dengan pola kemasyarakatan yang bersifat horizontal, yang merupakan struktur masyarakat dengan berbagai kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, dan adat istiadat yang dikenal dengan istilah difensiasi sosial.

Setiap anggota masyarakat, termasuk yang disebut sebagai raja memandang anggota masyarakat lainnya sebagai saudara. Tidak ada sistem kekuasaan yang bersifat otoritatif dan vertikal sebagaimana kita saksikan di dalam masyarakat yang hidup di bawah kekuasaan feodal tadi.

Dalam buku Sumatran Politics and Poetics Gayo History 1900 -1989 (1991), yang ditulis John Bowen, seorang antropolog yang pernah mendiami Gayo kurang lebih satu dekade menyebutkan, bahwa alasan Belanda mengubah sistem sosial kemasyarakatan Gayo tidak lain karena masyarakat dengan sistem kekerabatan yang bersifat horizontal dan egaliter susah untuk mereka kendalikan.

Bahwa alasan Belanda mengubah sistem sosial kemasyarakatan Gayo tidak lain karena masyarakat dengan sistem kekerabatan yang bersifat horizontal dan egaliter susah untuk mereka kendalikan

Dalam tatanan sosial masyarakat Gayo yang berkembang saat itu rakyat sama sekali tidak takut pada otoritas yang lebih tinggi.

Rakyat Gayo tidak dapat ditekan dan dipaksa untuk melakukan sesuatu, selama itu bukan merupakan kesepakatan bersama.

Sebenarnya, secara kronologis waktu, kehadiran Belanda di Gayo tidaklah terlalu lama.

Apabila dihitung sejak mereka melakukan pembantaian di Gayo Lues pada tahun 1904 sampai mereka angkat kaki pada tahun 1942. Belanda hadir di wilayah Gayo hanya dalam kurun waktu 38 tahun saja. Artinya, tidak sampai satu generasi manusia.

Orang-orang ada di pasar. Perdagangan saat ini diperkirakan sudah mengenal jual beli dengan uang dan sistem barter. (Sumber: Koleksi Museum Belanda)

Kalau dipikir-pikir, dengan waktu kehadiran yang hanya sesingkat itu. Saat Belanda angkat kaki dari tanah Gayo, seharusnya masyarakat Gayo bisa dengan mudah kembali kepada tatanan sosialnya yang asli.

Sistem sosial yang terbukti berhasil membuat peradaban Gayo eksis selama ribuan tahun tanpa mengalami konflik yang cukup berarti dalam relasi antar warga.

Tetapi, mengapa yang terjadi tidak demikian?Apa yang membuat nilai-nilai yang diwariskan Belanda dalam sistem sosial kemasyarakatan Gayo ini bisa permanen?

Jika dianalisa, sekitar 20-an tahun yang lalu, saya melihat sebuah advertorial menarik di majalah National Geographic.

Advertorial ini menceritakan tentang bagaimana para ilmuwan pertanian menyelamatkan dunia dari kelaparan akibat ancaman hama wereng, yang nyaris memusnahkan seluruh varietas padi budidaya yang selama ini menjadi andalan manusia, sebagai penyedia bahan makanan bagi setidaknya 20 persen dari jumlah penduduk bumi.

Musnahnya padi budidaya kala itu berpotensi menyebabkan sekitar 20 persen populasi penduduk bumi terancam kelaparan.

Para ilmuwan berhasil mengatasi masalah ini, sebab mereka berhasil menemukan satu spesies padi liar yang tumbuh di alam. Spesies padi ini terbukti telah mampu bertahan di bumi melewati segala proses.

Jenis padi ini yang menarik perharian ilmuan itu tidak akan punah akibat serangan hama yang datang silih berganti selama jutaan tahun.

 

Oleh para ilmuwan, gen khusus padi yang tahan terhadap wereng ini, diisolasi untuk kemudian diintrograsi ke dalam padi budidaya yang kita kenal. Oleh para ilmuwan gen khusus padi ini yang tahan terhadap wereng, diisolasi untuk kemudian diintrogresi (gennya dimasukkan baik melalui teknik konvensional maupun menggunakan bioteknologi) ke dalam padi budidaya, yang dikenal.

Sehingga padi budidaya jadi tahan wereng, kemudian berdampak terhadap 20 persen penduduk bumi yang selamat dari bahaya kelaparan.

Bayangkan seandainya padi liar itu sudah tidak ada, kemudian punah dan tidak lagi ada plasma nutfahnya. Tentu dunia yang kita kenal hari ini, sama sekali berbeda wajah.

Advertorial National Geographic ini diakhiri dengan ajakan untuk melestarikan plasma nutfah organisme yang ada di bumi, meskipun saat ini kita masih belum tahu manfaatnya.

Tetapi untuk proyeksi masa depan, seperti spesies padi liar tadi, bisa jadi padi liar akan menjadi penyelamat bagi jutaan bahkan miliaran manusia dimuka bumi.

Bandingkan fenomena ini dengan sistem dan tatanan sosial masyarakat Gayo sebelum kedatangan Belanda.

Apabila para ilmuwan di bidang pertanian mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi padi budidaya, karena mereka tidak mendapat terlalu banyak kesulitan untuk menemukan spesies padi liar yang memiliki keunggulan.

Tidak demikian halnya dengan siapapun yang ingin menggali kembali tata nilai dan tatanan sosial Gayo yang lama. Mengapa? Jelas karena tidak seperti koleksi plasma nutfah padi yang masih tersedia di alam.

Bagi kita orang Gayo, sudah banyak kehilangan warisan berharga itu. Sebab kita tidak pernah mencatat sejarah dan sistem budaya kita.

Belanda lah yang pertama kali mencatat semua hal ini secara detail.

Bila diibaratkan seperti plasma nutfah, saat ini sejarah dan kekayaan adat budaya Gayo sudah dalam status endangered alias terancam punah.

Agar budaya Gayo tidak punah, tugas kita masyarakat di Dataran Tinggi Gayo, generasi Gayo saat ini untuk menyelamatkan dari status ancaman punah itu. Tentu dengan menggali kembali dan mencatatnya.

Tetapi seperti halnya plasma nutfah padi. Pencatatan sejarah Gayo tentu harus mengikuti kaidah ilmiah.

Sejarah yang dicatat, harus benar-benar sejarah yang sesungguhnya. Bukan sejarah yang kemudian dikarang-karang secara brutal dan hanya dipakai untuk memamerkan kebanggaan semu yang sebenarnya sama sekali tak ada manfaatnya. Karena hanya berpotensi membawa kerusakan permanen di masa yang akan datang.

Lalu, mengapa sejarah palsu membawa kerusakan? Tidak lain karena catatan sejarah palsu akan menuntun generasi Gayo mendatang kepada kesesatan saat mereka berusaha mengenal kembali jati dirinya

Sebagai contoh, usia kota Takengen (Nomenklatur nasional menyebutnya “Takengon”, merupakan penamaan yang berasal dari dialek Belanda) yang baru ada di awal abad ke-20, dikatakan sudah ada sejak sekian ratus tahun yang lalu.

Sekarang, sejarah yang dikarang secara brutal tanpa mengikuti kaidah ilmiah dalam menentukan usia kota Takengen mungkin akan terlihat tak ada masalah dan paling jauh sekedar terdengar lucu dan menjadi bahan olok-olok saja.

Tapi coba bayangkan, seratus atau dua ratus tahun dari sekarang, setelah generasi Gayo hanya tahu versi sejarah ini.

Pola pikir mereka akan terbentuk untuk mempercayai, bahwa dari sejak semula peradaban Gayo adalah peradaban dengan kekuasaan terpusat di Takengen.

Khas peradaban feodal yang generasi Gayo kenal di pelbagai daerah di Indonesia. Mereka takkan pernah bisa tahu, bahkan terpikir kalau sebenarnya peradaban Gayo tadinya adalah peradaban egaliter yang tersebar di banyak klaster.

Mulai dari Linge, Lut, Gayo Lues, Tanah Alas dan Serbejadi yang merupakan sebuah budaya yang mendudukkan sesamanya dengan posisi setara.

Sehingga ketika muncul persoalan dalam sistem sosial yang kita jalani sekarang, anak cucu kita takkan mampu menemukan solusi, dengan cara menggali kembali sistem dan tatanan sosial leluhur kita yang sudah eksis dan terbukti cocok untuk diterapkan pada masyarakat Gayo selama ribuan tahun.

Apabila dikaitkan dengan padi liar yang dibahas sebelumnya, bisa dibayangkan bagaimana penyesatan seperti itu dilakukan di bidang ilmu pertanian. Hanya untuk sekedar gagah-gagahan, seorang direktur lembaga penelitian mempublikasikan spesies ilalang sebagai padi.

Ketika dunia menghadapi masalah wereng yang menyerang padi budidaya. Apakah ilmuwan yang mencoba mengatasi masalah ini dengan cara menyilangkannya dengan padi budidaya, tidak akan dibuat sakit kepala dan frustasi?

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button