GAYOHukumTakengon

Ini Klarifikasi MD, Kepsek yang Diberitakan Chat Mesum Tiga Guru PNS di Aceh Tengah

Penulis: Iwan Bahagia

KETOL, SUARAGAYO.Com – Kepala Sekolah SMPN 32 Ketol berinisial MD, akhirnya angkat bicara mengenai perkara chat yang diduga berasal dari mesum yang dituduhkan kepada dirinya.

MD sebelumnya sempat dihubungi Suaragayo.com melalui telepon seluler, namun menjawab pertanyaan yang diarahkan ke dirinya.

Namun Jumat 30 April, MD mengirimkan pesan kepada Suaragayo.com, berisi klarifikasi atas kasus yang diarahkan kepadanya.

“Saya kepala SMPN 32 Takengon, dalam hal ini akan mengingat di beberapa media online tentang tindakan yang tidak senonoh oleh kepala sekolah SMPN 32 Takengon yang berinisial MD,” kata MD.

Oleh sebab itu, ia mengaku perlu mengklarifikasi masalah tersebut, karena secara pribadi MD mengaku tidak merekomendasikan untuk melakukan chat yang pendekatan tak senonoh kepada bawahannya.

“Terkait kabar yang menyatakan tersebut, saya merasa perlu mengklarifikasi berita ini, yang mana perihal yang dituduhkan kepada saya itu secara pribadi niat saya tidak bertujuan untuk melecehkan ketiga guru tersebut,” jelasnya.

Ia merasa terpaut hanya beberapa tahun usianya dengan para guru sekolah itu, sehingga menganggap gaya komunikasi yang akrab dan lebih kepada tindakan kekeluargaan sering dilakukannya.

“Dalam usia saya terbilang salah satu kepala sekolah yang berusia muda di Aceh Tengah serta SMPN 32 Takengon, yang merupakan sekolah pertama yang saya duduki sebagai kepala sekolah. Rekan-rekan guru yang mengajar di tempat saya pun usianya tentu tidak terlalu terpaut jauh dengan saya, sehingga gaya komunikasi yang saya lakukan lebih kepada seperti hubungan kakak adik, dan tidak ada kesan seperti atasan dan bawahan, “lanjut MD.

Sebagai pegiat media sosial, MD mengaku terbuasa saling komen pada pembahasan tertentu. Selain itu ia kerap menyapa para guru via WhatasApp sebagai tanda keakraban.

“Dapat kami sampaikan bahwa di dalam mengisi waktu kosong, sehari-hari saya cukup aktif bermedia sosial, itu dapat pembaca lihat pada akun facebook saya, yang mana setiap postingan saya selalu akan ada reaksi saling komen. Begitu juga di dalam WA, saya juga sering menyapa teman-teman untuk sekedar silaturahmi.

Selain itu, chat yang dipersoalkan oleh dua guru itu berisi pesan bernada seloroh, tak pernah sama sekali terpikir olehnya akan menjadi masalah yang besar hingga mencuat ke media.

“Namun pada kasus ini saya mengakui bahwa terhadap dua dari ketiga guru itu yang brrinisial (SF) dan (MU) saya pernah bergurau panjang, yang ternyata membuat ketidak nyamanan bagi diri mereka,”

“Awalnya saya berpikir kalau cara komunikasi itu hanyalah hal biasa saja, semacam bercanda gurau karena tidak ada protes dari mereka, namun setelah kasus ini mencuat, dan atas nasihat dari orang terdekat dan keluarga, saya mengakui kesalahan dan kesilapan saya itu,” ucap MD.

Ia bahkan menyebut satu dari tiga guru PNS itu dianggap memiliki sejumlah persoalan dengan sekolah. Sebab pernah pindah sekolah sementara regulasi tidak mengizinkan. Guru tersebut akhirnya sempat pindah sekolah, namun akhirnya kembali ke SMP Negeri 32 Ketol. Peristiwa ini lanjut dia, terjadi saat guru tersebut sedang dalam izin cuti melahirkan.

“Satu diantara ketiga guru tersebut sebelumnya telah pindah dinas ke sekolah yang berada disekitar Takengon, namun karena regulasi yang belum sesuai ia kembali di pulangkan ke sekolah kami,”

“Pada saat itu juga bertepatan dengan masa cuti melahirkan. Kami tidak mempermasalahkan, namun setelah waktu cuti itu habis, beliau belum juga hadir disekolah kemudian saya mencoba menghubungi nya via WA dengan mengatakan “kune kebermu ****? mukale di aku kin ko. Bahasa ini kerap saya gunakan kepada orang yang lama tidak berkomunikasi dengan saya,”

“Dan sudah menjadi semacam template bagi saya untuk memulai obrolan yang sudah lama terputus. Mungkin pesan inilah yang terbaca oleh suaminya kemudian mengundang reaksi dan melaporkan saya ke dinas pendidikan Aceh Tengah,” sebut MD.

Ia mengaku sempat dipanggi oleh pihak Dinas Pendidikan Aceh Tengah terkait persoalan yang dipermasalahkan oleh sejumlah guru perempuan tersebut.

“Saya dipanggil dan diminta keterangan, setelah saya menjelaskan, saya ditetapkan dalam masa pembinaan dan akan dilakukan pemantauan khusus, kepada pihak dinas saya telah meminta maaf dan siap menjalani perintah tersebut,” ungkapnya.

Persoalan ternyata belum selesai, sebab Senin (26/4/2021), MD kemudian memanggil ketiga guru tersebut ke ruang kerjanya. MD mengaku sudah menjelaskan duduk perkara dan sudah meminta maaf atas kesilapan yang dilakukkannya. Kepada MD ketiga guru itu mengaku sudah memaafkan.

“Saya kira persoalan ini telah selesai, namun saya dikejutkan dengan pemberitaan dimedia yang di rilis oleh suami salah seorang guru tersebut, hal ini membuat saya cukup terpukul dan menutup sementara komunikasi via handphone untuk menenangkan diri saya,” tambahnya.

Upaya mediasi dilakukan dirinya untuk menyelesaikan kasus ini terutama kepada salah satu pihak yang memberitakan tersebut, namun belum menemui hasil.

“Kami beritikad agar kiranya bisa dilakukan musyawarah baik demi kebaikan bersama. Saya menjamin kepada ketiga guru tersebut tidak akan ada upaya mempermasalahkan segala bentuk admistrasi di sekolah selama mereka melaksanakan tugas dengan baik. Ke depan saya juga akan lebih profesional dan ini akan menjadi pelajaran yang sangat penting bagi saya, “kata MD lagi.

“Dengan ini pula saya menyampaikan permohonan maaf yang paling besar kepada semua pihak. Terima kasih,” tulisnya di akhir pesan WhatsApp itu.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button