AcehBudayaGAYOTakengon

Inilah Prosesi Adat Mujelisen (Khitanan) Urang Gayo

Prosesi Dilakukan di Kampung Wihni Durin

Penulis: Desi Mentari

TAKENGON, SUARAGAYO.com – khitanan sudah tidak asing lagi bagi umat muslim di dunia. Hukum dari khitan bagi laki-laki sebelum baligh adalah wajib.

Setiap daerah memiliki berbagai tradisi sendiri sebelum dan sesudah acara khitanan, atau sering disebut sunet rasul.

Bagi orang Gayo terdahulu, khitanan juga merupakan sesuatu yang sakral. Jadi, ada tradisi tersendiri dalam pelaksanaanya.

Prosesi sunet rasul hingga saat ini masih digelar oleh sejumlah warga di Gayo Lues, Lokop Serbejadi di Aceh Timur dan masyarakat Gayo Khalul di Aceh Tamiang.

Alwatan adalah anak yang akan melakukan khitananan. Anak ini berumur 10 tahun yang sedang duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 6.

Karena itu, Alwatan pun harus mengikuti adat atau rangkaian acara dalam khitanan di Kampung Wihni Durin, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah.

“Tradisi ini harus dilaksanakan sebelum acara khitanan, biar lebih berkesan untuk dia dan semua ahli keluarga,” jelas Sumarni (43), disela prosesi yang berlangsung, Kamis (5/8/2020).

Sumarni adalah ibu dari Alwatan yang menginginkan anaknya melakukan segala acara tradisi rangkaian acara sebelum dan sesudah khitanan.

Pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB, Alwatan memulai rangkaian dengan mandi menggunakan air jeruk purut atau asam mungkur dalam bahasa Gayo.

Jumlah mungkur tidak ditentukan banyaknya. Sumarni juga ikut dalam rangkaian acara pertama ini, dengan memandikan langsung sang buah hati.

Rangkaian selanjutnya, memakaikan baju yang telah disediakan oleh Sumarni, yang terletak di atas dulang (sejenis nampan yang terbuat dari besi dengan warna keemasan).

Di atas dulang rersebut, sudah tersedia upuh kerung (kain sarung), upuh panyang (kain panjang), tumbuhan yang terdiri tiga macam yang disebut dedingin, celaka, dan batang teguh, serta bertih (sejenis Popcorn yang terbuat dari padi).

Setelah itu, Sumarni mengambil makanan untuk Alwatan. Anak itu kemudian didudukan di atas sebuah tikar anyaman yang telah tersedia.

Sang ibu kemudian mulai menyuapkan sesuap demi sesuap nasi kepada Alwatan.

Selanjutnya, nenek dari Alwatan sudah duduk di depan cucunya. Nenek Alwatan mulai melakukan proseso tepung tawar kepada Alwatan, dengan mengambil tumbuhan yang terdiri dari tiga jenis yang telah diletakkan di dalam sebuah cambung yang berisi air.

Proses selanjutnya, air langsung dipercikkan kepada Alwatan secara perlahan dengan menggunakan tiga jenis tangkai tumbuhan tersebut.

Setelah itu, dilakukan penaburan bertih kepada Alwatan secara perlahan pada bagian pundak, sekaligus dengan memercikkan air yang sudah tersedia.

Berikutnya, Alwatan mulai muniro izin (meminta izin) kepada nenek, kakek, ayah, dan ibunya serta saudara yang hadir pada rangkaian acara tersebut.

Air mata menjadi saksi ketika prosesi itu. Alwatan kemudian mendengarkan petuah dari ibunya. Air mata Alwatan juga menetes ketika mendengar nasihat dari ibunya.

Pukul 06.45 WIB, rombongan pengantar Alwatan telah bersiap untuk pergi ke lokasi khitan yang jauh dari rumah.

Proses penyunatan atau sirkumsisi dilakukan di daerah Kampung Genting Gerbang, Kecamatan Silih Nara, oleh seorang manteri.

“Proses khitanannya tidak berlangsung lama. Alwatan tidak menangis. Padahal, saya takut jika dia menangis. Tapi, Alhamdulillah itu tidak terjadi,” jelas Sumarni setelah khitanan selesai.

Proses khitanan berakhir lancar, rombongan kembali pulang ke kampung Wihni Durin untuk berkumpul kembali.

Sebab, di rumah Sumarni, sudah kedatangan para sesepuh kampung, mulai dari imem (imam) desa hingga petue kampung tersebut.

Dua buah nampan disajikan. Satu nampan terdiri dari nasi pulut (nasi ketan), bertih dengan pisang beserta telur serta apam Gayo. Nampan kedua terdiri dari nasi, ayam, rendang, bihun, kopi, air putih, air cuci tangan, dan pengat depik.

Ternyata, kegiatan masih dilanjutkan dengan kenduri atau doa bersama yang berlangsung sakral. Setelah itu, dilanjutkan dengan makan bersama.

Makan bersama dilaksanakan setelah penghidangan dengan cara beredang.Saat beredang, biasanya untuk kaum laki-laki dihidangkan oleh kaum laki-laki, hidangan untuk perempuan dihidangkan oleh para perempuan.

Adat itulah yang sering dilakukan dalam acara khitanan oleh orang Gayo. Setelah itu, para keluarga melakukan pakat sudere atau pakat keluarga untuk menentukan hari resepsi sunet rasul.

“Alhamdulillah, saya senang acara hari ini berjalan lancar, tanpa ada yang kurang sedikit pun,” ujar Sumarni.

 

Editor: Iwan Bahagia/ Yusradi Usman

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button