GAYONasional

IPB akan Teliti Tumbuhan dan Tanaman Pangan Masyarakat Gayo

Penelitian akan dilakukan selama tiga tahun

Penulis: Iwan Bahagia

JAKARTA, SUARAGAYO.com Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai meneliti keaneragaman hayati yang ada dalam masyarakat Gayo.

“Saat ini, kami mulai meneliti budaya dan tumbuhan. Kami memilih untuk fokus ke masyarakat Gayo. Selain untuk konservasi tumbuhan atau tanaman pangan, juga untuk pelestarian bahasa lokal. Sayangnya, karena Covid-19, kami belum bisa berangkat ke lapangan, Gayo, Aceh,” kata Arzyana Sunkar, dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakuktas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Jakarta, Kamis (20/8/2020).

Meski demikian, jelas Arzyana, penelitian ini harus tetap jalan walaupun dalam keadaan pandemik. Namun akan dilakukan dengan sejumlah alternatif.

“Kami melihat alternatif untuk mengambil data dari masyarakat Gayo yang ada di wilayah Jabodetabek, yang masih bisa kami kunjungi dan diwawancarai,” kata Arzyana.

Penelitian yang menjadikan Gayo sebagai daerah prioritas penelitian itu akan dilakukan selama lebig kurang tiga tahun.

“Fokus pada keanekaragaman hayati, tamanaman pangan, dan obat-obatan. Nanti, akan diukur tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa, yang menggambarkan kecenderungan hilangnya biodiversitas (ukuran terbesar dalam ekosistem), dengan menggunakan TRALAVi ( Traditional Knowledge and Language Vitality index).

“Direncanakan, Sabtu 29 Agustus nanti di Sekretariat Musara Gayo. Narasumbernya, kami minta bantuan pengurus Musara Gayo. Teman-teman Musara Gayo yang lebih paham, siapa saja yang diundang. Sekitar 10-15 orang. Dari kami, ada 7 orang,” kata Arzyana.

Sementara itu, peneliti bahasa Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni yang jadi narasumber dalam diskusi perdana tersebut menjelaskan, orang Gayo sudah ada di Sumatera (Aceh saat ini) sejak 8000-an tahun yang lalu (jaman prasejarah), dan merupakan suku asli atau pertama di Aceh.

Orang Gayo mendiami Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, sebagian Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

“Orang Gayo di daerah-daerah tadi disebut dengan Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Belang, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalui dan memiliki beberapa dialek dan subdialek bahasa,” kata Yusradi.

 

Diungkapkan penulis buku Ekolinguistik itu, orang Gayo memiliki konsep pangan dan ketahanan pangan, yang dikenal dengan istilah beras padi tungket imen. Gadung-kepile peger ni keben.

“Beras atau padi merupakan makanan pokok. Singkong-ubi jadi makanan pendukung jika tidak ada beras. Karenanya, disebut penger ni keben (pagarnya atau pendukung lumbung padi).

Masa pandemi Covid-19 ini, kearifan pangan ini kembali digalakkan, karena lesunya ekonomi, terbatasnya pergerakan, kurangnya pemasukan, dan rendahnya daya beli masyarakat.

Apalagi, pada masa sebelumnya, orang Gayo juga sudah pernah mengalami pandemi hewan dan pandemi manusia, dan sudah pernah melewati herd immunity.

Orang Gayo, sambung pendiri dan pengelola Perpustakaan Gayo yang mengoleksi buku-buku Gayo terlengkap se-Indonesia itu juga menyebutkan, orang Gayo juga mengenal dan memanfaatkan tumbuhan sebagai obat-obatan, tanaman pangan, dan upacara adat/kegiatan sosial.

Arzyana Sunkar juga mengatakan, sebelum dielar Webinar, pihaknya akan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terbatas dengan melibatkan orang Gayo yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodetabek) yang paham keanekaragaman hayati Gayo.

Yusradi Usman al-Gayoni juga akan jadi moderator dalam FGD tersebut.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button