GAYOKopiTakengon

Kader HMI di Aceh Tengah ini akan Kirim 5 Ton Kopi Wine ke Timur Tengah September Mendatang

 

TAKENGON,SUARAGAYO.com – Kopi sudah menjadi identitas yang diakui oleh dunia bagi masyarakat Gayo. Karena kualitas yang baik menjadikan kopi Gayo disruput oleh semua benua.

Harga yang bagus, kualitas seruputan bertambah banyak menjadikan Kopi Gayo digemari para pecinta dan penikmat kopi dibelahan dunia manapun.

Salah satu jenis biji kopi yang diminati oleh pembeli internasional adalah biji winny atau disebut dengan Kopi Wine.

Salah seorang pengusaha yang juga mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memiliki usaha kopi wine ini adalah Syukran (33) atau kerap dipanggil Syukran Kribo. Ia merupakan warga kampung Umah Opat, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.

“ Usaha ini saya lakoni sejak tahun 2018,” kata Sukran, ditemui Suaragayo.com, Kamis, 1 Juli 2021 di Salah satu Café yang berada di daerah Blangkolak 1.

Syukran mengaku termotivasi menjadi pengusaha kopi wine karena kecintaannya terhadap kopi yang memiliki nilai jual yang tinggi, yang dianggap bonus bagi dirinya.

Jenis bean atau biji yang satu ini memang diproses khusus, sehingga memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi dari jenis biji kopi Gayo yang ada.

Dengan menyeruput kopi wine, rasanya menggantikan minum alkohol yang mempengaruhi segala aspek sosial budaya dapat diputar balikan menjadi hal yang lebih positif oleh kopi wine.

Oleh karenanya, kopi ini banyak diperuntukan kepada para alkoholik.

“ Wine ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi, oleh karena proses pembuatannya yang terbilang lama. Mulai dari permentasi selama tiga minggu lamanya. Serta penjemuran minimal 3 minggu jika cuaca cerah. Jika cuaca kurang bagus, maka proses pengeringan memakan lebih banyak waktu lagi,” ujar Syukran, yang juga mantan Ketua Umum HMI Cabang Takengon ini.

Kini hasil olahan kopi wine milik syukran sudah di pasar di level internasional, bukan lagi hanya pasar domestik.

“Kita mengirim kopi wine keseluruh Indonesia, mungkin yang belum tersentuh itu Papua, rencana pada bulan September kita akan mengirim kopi melalui kontributor di Medan ke Timur Tengah sebanyak 5 ton,” sebut Syukran.

Ia juga mengungkapkan, keberhasilan membuat kopi wine ditentukan oleh kualitas kopi.

“Kopi Wine itu harus memiliki kualitas cherry yang bagus, kopi cherry harus berasal dari ketinggian 1300 Mdpl, serta faktor keberuntungan. Layaknya seperti orang membuat permentasi ragi atau tape, tidak semua orang berhasil membuatnya,” papar Syukran.

Untuk menjamin kualitas kopinya, ia memutuskan beberapa daerah yang ada di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang memiliki ketinggian 1300 Mdpl saja sebagai supplier cherry atau penjual kopi merah sebagai bakal utama kopi wine.

“Awalnya memulai usaha ini saya mendapat cherry dari daerah Sabun, Aceh Tengah. Untuk saat ini saya memperoleh cherry dari daerah Buntul, Bener Meriah,” ujar Syukran lagi.

Usaha yang dimulai dengan modal kopi dikebun kopi milim sendiri itu semakin meroket karena permintaan pasar yang tinggi, sayangnya pandemi COVID-19 juga berdampak pada usaha yang Syukran jalani.

“Tiga bulan awal pendemi kita juga merasakan dampak perekonomian, akhirnya produksi sempat menurun. Namun, pada bulan November 2020 kita bangkit lagi bertepatan dengan musim panen kopi,” ungkap Syukran lagi.

Soal rasa menurut pria kelahiran Bintang, Aceh Tengah ini, bukan lagi menjadi sebuah keraguan. Akan tetapi soal harga menjadi bahan pertimbangan bagi konsumen. Harga suatu barang dapat berubah kapan saja sesuai permintaan pasar dan ketersedian barang.

“Untuk saat ini harga kita jual per satu kilogram biji kopi wine mencapai 190 ribu. Awal-awal saya memulai usaha ini pada 2018 harganya bisa mencapai 500 ribu perkilo menyaingi harga kopi luwak atau kopi musang. Namun jika kita produksi kopi luwak itu sulit, karena kita harus miliki peliharaan musang. Setidaknya kita memiliki lahan dekat hutan dekat habitat musang, sedangkan kebun yang berada dekat dengan kota, nyaris tidak dihidupi musang. Oleh karenanya saya memilih usaha kopi wine,” jelas Syukran lagi.

Setiap usaha tentu memiliki jatuh bangun, hal ini juga pernah dirasakan oleh salah satu pengusaha kopi wine di Dataran Tinggi Gayo ini.

“Awal saya belajar cara membuat kopi wine ini saya gagal, namun karena saya berfikir ini usaha yang sangat menguntungkan saya belajar lagi. Proses penggilingan juga begitu, karena ketidaktauan saya menggiling kopi dengan huller yang besar, akhirnya bijinya hancur. Tentu ini merugikan saya. Ternyata untuk penggilingan kopi wine ini menggunakan mesin huller yang kecil, kini saya sudah punya sendiri,” ucap Syukran.

Kini ia telah memberikan lapangan pekerjaan bagi beberapa orang untuk proses pembuatan kopi wine yang berkualitas.

“Sekarang ini saya sudah menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain seperti proses permentasi, penjemuran, penggilingan hingga pensortiran dilakukan oleh orang lain. Oleh karenanya saya berharap bagi kawula muda untuk memproses kopi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi, yang pada akhirnya berdampak pada sosial-ekonomi,” pungkas Syukran.

Syukran berharap agar kawula muda yang berada di Gayo agar berperan dalam memperoses kopi yang menjadi ikon masyarakat Gayo saat ini.***

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button