EdukasiGAYOSosialTakengon

Kampung Asir-Asir Asia di Takengon, Kampung Permai Tiga Agama

Mengintip kampung yang menjadi simbol keberagaman di Aceh Tengah

Penulis: Desi Mentari

TAKENGON SUARAGAYO.com – Suster Silvi, ingat betul, kala dirinya menerima kabar penugasan ke Aceh. Seperti prajurit infantri, yang menerima diperintahkan ke garis depan pertempuran.

Sebagai biarawati, kesan Tanah Rencong yang penduduknya didominasi penganut Islam mendesirkan sebentuk ngeri dibatinnya.

Bersama segumpal khawatir, ia tiba di Kabupaten Aceh Tengah tahun 2008 silam.

Suhu udara dalam lingkup belasan derajat celsius menyambut, menawarkan nuansa sejuk yang tak kuasa ditepis lapisan jangat.

Menghadirkan gigil di sekujur tubuh; berkelindan dengan stigma tentang Aceh dalam benaknya.

Suster Silvi adalah seorang biarawati yang sudah sekitar 12 tahun menjadi umat Gereja Katolik di Kampung Asir-asir Asia, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Kampung Asir-Asir Asia adalah kampung pemekaran dari Kampung Asir-Asir. Di Kampung Asir-Asir Asia, terdapat sebuah gereja dan sekolah TK bernama Budi Dharma. Suster Silvi menjadi  dengan mengajar para murid sekolah TK tersebut, sekaligus guri SD Budi Dharma yang berada disekitar Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen.

Cerita Suster Silvi belanjut, awal kedatangannya ke kampung itu, ia langsung melihat sikap penduduk yang diluar dugaan. Perlahan rasa takut dan khawatir yang sempat dirasakannya kemudian pupus, karena keramahan warga sekitar.

Selain sikap warga Asir-Asir Asia yang tak pernah mempermasalahkan keberadaan agama lain, kampung berpenduduk 1.036 jiwa itu juga memiliki Vihara, selain sebuah masjid yang menjadi rumah ibadah mayoritas warga.

Suster Silvi menyampaikan cerita itu dengan penuh keakraban, saat disambangi pada 31 Agustus 2020.

Suster Silvi sejak tadi sebenarnya sedang menanti untuk diwawancara. Ia tidak sendiri, karena sedang berdua dengan Kepala TK Budi Dharma, Elpina Barus di ruang kepala sekolah.

Taman Kanak-Kanak tersebut berada di komplek Gereja Katolik.

Bangunan gereja dan TK itu tampak berdiri saling berhadapan.

“Kami merasa nyaman, memang pertama dulu, ketika sampai ke sini ada rasa khawatir, ketika mendapat gambaran mau ke Aceh. Akan tetapi semua tergantung dari kita, kalau kita mau saling menghargai, menerima beda agama maka kita juga diterima. Sekarang ini sudah 12 tahun saya disini, ” jelas suster Silvi, yang punya nama asli Silvia tersebut.

Perbedaan agama dan suku yang ada di dalam maupun di luar komplek gereja dan TK Budi Darma, menjadi sesuatu yang berharga.

Itulah kesan yang muncul, mengapa tidak pernah konflik berbau perbedaan itu terjadi di kampung yang tidak jauh berada di tepi sungai Pesangan ini.

Facebook Comments Box
1 2 3 4Next page

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button