EdukasiGAYOTakengon

Kartini Bagi Perempuan Pemimpin Koperasi Kopi (Bagian II): Rahmah ‘Ketiara’

Penulis: Zuriana Munthe

BLANG GELE, SUARAGAYO.Com – Perempuan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas hingga saat ini.

 

Segala aspek ide pemikiran tentang perempuan dapat membawa perubahan kecil maupun besar terhadap kehidupan bersosial.

 

Salah satu perempuan yang mampu membawa perubahan yaitu Raden Ayu Kartini atau yang dikenal RA Kartini.

 

Hari kelahirannya yang diperingati setiap 21 April di Indonesia kerap melahirkan beragam inspirasi bagi para perempuan nusantara.

 

Walaupun ia telah menghilang ditelan masa, namun slogan populer ‘Habis gelap terbitlah terang’ karya Kartini tetap takkan pudar termakan oleh zaman.

 

Salah satu slogannya itu kini dilanjutkan oleh seorang pengusaha kopi asal Kampung Umang, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.

 

Ia adalah Rahmah (54) yang kerap disapa Inen Bambang.

 

Selama 20 tahun lamanya, ia telah menjadi pengusaha kopi, dan kini menjadi perempuan gayo pertama yang dapat melakukan ekspor ke luar negeri.

 

“Saya sudah 20 tahun menjadi pengusaha kopi, mulai dari jual beli cherry lokal, alhamdulillah bisa menjadi wanita Gayo pertama bisa ekspor go internasional,” Kata Rahmah.

 

Tentu berbagai asam garam harus dilaluinya. Dalam sebuah wawancara singkat melalui telepon bersama Suaragayo.com, pada Rabu 23 April 2021 lalu, ia menjelaskan secara gamblang perjuangannya pada saat itu.

 

“Awalnya saya merintis usaha, pada saat itu anak-anak ibu juga masih kecil. Kita buka kios jual rempah rempah disamping jual minyak, gula dan beras. Terus petaninya antar kopi cherry ketempat saya, lalu mereka membawa rempah-rempah dari tempat saya. Ini berlangsung sekitar delapan tahun lamanya,” kata dia.

Usahanya kemudian berlanjut, setelah menjual cherry, berikutnya Rahnah mulai membeli gabah yang diproses menjadi asalan, lalu diperdagangkan ke Medan. Kegiatan ini dilalui Rahmah selama kurang lebih lima tahun.

“Kemudian kita belajar bagaimana ekspor bisa keluar negeri seperti eksportir Medan. Tentu kita harus banyak bertanya . Saya tidak pernah malu untuk bertanya. Tidak pernah menyerah untuk mencari tahu. Akhirnya saya buru-buru mengurus izin ekspor. Alhamdulillah ada yang bantu untuk keluarkan izin ekspor, tetapi tidak dapat melakukan ekspor,” lanjut Rahmah.

 

Sekitar dua tahun lamanya, Rahmah mengantongi ekspor, sampai masa berlaku izin tersebut berakhir, ia tak juga melakukan ekspor.

Suasana ngopi para karyawan Koperasi Ketiara. (Dok. Istimewa)

“Karena mau ekspor kemana saya juga tidak tau,” ujar Rahmah.

 

Inen Bambang masih terus berusaha. Ia merasa pantang menyerah, sebab menganggap kegagalan bukan menjadi tolak akhir impian yang harus diwujudkannya.

 

Dengan tekad yang kuat dan didorong dengan pedoman malu bertanya sesat dijalan, akhirnya Rahmah mengganti dua tahun tanpa ekspor kopi.

 

“Ternyata setelah saya bertanya dari eksportir Medan, jika kita ingin ekspor kita harus memiliki koperasi, harus memiliki anggota, harus mengantongi serfikat organik, harus mempunyai sertifikat fairtrade. Akhirnya saya kumpulkan pedagang dari desa ke desa terus kami membentuk koperasi,” lanjutnya.

 

Rahmah akhirnya terpilih sebagai ketu koperasi yang diberi nama Koperasi Ketiara, terhitung sejak 2009.

 

Setelah semua pendataan, ia mengurus sertifikat organik hingga ke Jakarta. Akhirnya koperasi yang dipimpinnya mendapatkan sertifikat organik.

 

“Selang beberapa waktu saya mengajukan sertifikat fairtrade ke Jerman. Sementara saya tidak bisa berbahasa inggris. Akhirnya dibantu oleh konsultan fairtrade, yang namanya pak Hagung. Jadi akhirnya kami bisa mendapatkan serfikat fairtrade,” ungkapnya.

 

Setelah melalui proses administrasi yang panjang, akhirnya pada 2013, Rahmah mulai mengembangkan bisnisnya hingga mancanegara.

 

“Pada tahun 2013 kami mulai ekspor perdana ke Belanda. Terus mencoba mengeskpor ke negara lain. Akhirnya jika ada event SCAA, SCAI, saya selalu ikut walaupun tidak bisa berbahasa inggris. Jadi kembali ke niat tadim Kita harus berani harus bisa kerja keras harus jujur alhamdulillah, bisa. Tercapai akhirnya impian saya bisa ekspor ke Mancanegara” Jelas Rahmah.

 

Kini ia telah memiliki 18 orang karyawan, dengan sebanyak 70 persen merupakan wanita yang ia pekerjakan di koperasi miliknya.

 

“Persentase tujuan negara ekpornya antara lain 70 perseb ke Amerika dan 30 persen ke Eropa dan Asia,” lankut Rahmah.

 

Rahmah telah melanglang buana ke berbagai negara maupun kota di belahan dunia, diantaranya Amerika Serikat, Seattle, New York, Atlanta, Bosten, Chicago, Madison, Milwaukee Belanda, Paris, Jerman, India, Meksiko, Tiongkok dan Taipei.

 

Makna Kartini bagi wanita eksportir kopi ini adalah ‘Kerja keras untuk meraih sukses’.

 

Sebab, proses yang ia jalani merupakan terobosan bagi kaum perempuan. Bahwa ia menunjukkan sebuah keberhasilanN bahwa perempuan harus bisa berpikir out of the box.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button