AcehBener MeriahGAYOHukum

Kecelakaan Ambulans di Bener Meriah, Keluarga: Sopir Sempat Bilang Ngantuk, tapi di Keramaian Ngaku Ada Penampakan

Penulis: Iwan B

BENER MERIAH, SUARAGAYO.Com – Kecelakaan mobil ambulans yang terjadi di Kampung Burni Telong, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, semakin menambah luka keluarga korban kecelakaan.

Betapa tidak, mobil ambulans itu membawa jenazah seorang perempuan yang belum lama dinyatakan meninggal di RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh, menuju Takengon, Aceh Tengah. Suami almarhumah, turut serta menemani di dalam mobil tersebut, bersama seorang sopir ambulans.

Berdasarkan penuturan salah seorang kerabat almarhumah, Fitri, mobil ambulans milik RSUZA itu keluar dari komplek rumah sakit pada Senin pagi, antara Pukul 07.00 WIB hingga 08.00 WIB.

Fitri kemudian menceritakan bagaimana aktivitas sopir sebelum kecelakaan terjadi.

Saat ambulans itu bergera keluar dari RSUZA, dua mobil milik keluarga turut mengiringi dari belakang.

“Setiba di Ronga Ronga, Bener Meriah, supir sempat cuci muka ke sebuah mersah (menasah). Supir bilang ke kami, panas, dan lelah. Dia juga bilang harus tiba Pukul 14.00 WIB. Padahal kami tidak mengejar apapun, selain fardhu khifayah,” kata Fitri, melalui sambungan telepon, Selasa (28/9/2021).

Fitri yang mengiringi ambulans itu dengan mobil yang dikendarai suaminya menyebut, rata-rata laju mobil pengantar jenazah kakaknya itu mencapai 80 hingga 100 kilometer per jam. Bahkan dua mobil yang itu sempat kewalahan mengejar ambulans tersebut.

Bahkan sebelun kecelakaan terjadi ujar Fitri, ambulans itu masih melaju kencang, karena target untuk tiba Pukul 14.00 WIB di rumah duka di Kebayakan, Aceh Tengah.

“Setelah itu mobil menabrak tembok pembatas antara drainase dengan jembatan, lalu menabrak gapura kafe yang ada di situ,” ungkapnya.

“Yang pertama, mobil itu tidak berjalan pelan. Kedua, kami mendengar letusan suara ban mobil ambulans. Ketiga, bagian depan ambulans hancur, kami sempat lihat asap keluar dari mobil, bahkan minyak mobil berserakan. Sopir pakai parasut, makamya cuma lecet,” sebut Fitri.

“Tangan kiri abang ipar saya yang ada di ambulans patah usai kecelakaan. Dahinya dapat beberapa jahitan karena luka. Jenazah juga mengalami luka karena masuk pecahan kaca mobil saat kecelakaan,” kata Fitri lagi.

Fitri mengaku sedih, sebagai keluarga yang baru saja kehilangan kakak perempuan, harus mengalami duka karena abang iparnya dirawat di rumah sakit Muyang Kute Bener Meriah, kemudian dirujuk ke RSU Datu Beru Takengon.

Belum lagi sempat kesulitan mengurus BPJS untuk pengobatan abang iparnya karena BPJS tidak menanggung luka karena kecelakaan tunggal, demikian dengan asuransi jasa raharja, sehingga beban pengobatan harus ditanggung secara pribadi.

“Ini musibah yang bertubi-tubi. Maka kemarin ada saksi yang bilang ambulans berjalan pelan saat kecelakaan, bikin keluarga besar tambah sedih dan kecewa,” papar fitri.

Ia juga meminta pertanggungjawaban RSU Zainoel Abidin atas musibah yang membuat masalah baru bagi keluarga korban, termasuk memeriksa dan memberi sanksi terhadap supir karena dugaan kelalaian. Berikut dengan biaya pengobatan luka, baik terhadap jenazah maupun terhadap abang iparnya yang mengalami patah tangan.

“Kami masih dalam suasana duka, belum melakukan tindakan apapun. Dan fardhu kifayah juga baru kemarin,” ujarnya.

Selain itu, keluarga duka sementara waktu mempercayakan kepada Polres Bener Meriah untuk menyelidiki kasus ini.

“Kami mohon penyelesaian kasus ini. Karena dari awal kami sebagai keluarga melihat dan menduga sopir sudah kelelahan dan mengantuk,” ucap Fitri.

“Suami saya sempat dengar sopir bilang gini, “aku ngantuk, cuma sekedip mataku”. Itu pas selesai kecelakaan. Tapi di depan orang ramai, dia ngaku ada penampakan. Sopir juga sempat bilang sama kami, lima mobil ambulans milik RSUZA semua kecelakaan saat itu. Ini yang buat kami curiga, dan tidak terima,” sambungnya lagi.

RSU Tak Sanggup Tangani Korban Patah Tulang

Sementara itu, korban luka yang diketahui bernama Fauzan Azima, abang ipar Fitri yang sempat dirawat di Muyang Kute dan RSU Datu Beru karena mengalami patah tulang pasca kecelakaan, harus dirujuk ke Banda Aceh. Sebab kedua rumah sakit itu tak mampu menangani cidera yang dialami korban.

“Kami dapat konfirmasi, RSU Datu Beru tidak sanggup menangani abang ipar kami, sekarang harus dirujuk ke Banda Aceh. Ini menambah kesedihan dan duka kami. Mohon RSU Zainoel Abidin dan Pak Polisi dapat mengusut kasus ini dengan segera,” pungkas Fitri.

Seperti diberitakan sebelumnya, mobil ambulans milik RSUZA yang sedang membawa jenazah terperosok di drainase sekitar Pukul 13.00 WIB di kawasan Panter Raya, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah, Selasa (28/9/2021).

Bukan hanya itu, ambulans tersebut menabrak gapura pagar sebuah kafe yang ada dilokasi itu.

Seorang penumpang yang sedang mendampingi jenazah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan setelah kejadian itu.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button