GAYOHukumTakengon

Kembali Beroperasi, PT JMI Rombak Manajemen dan Utamakan Instalasi Limbah Pabrik Getah

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – PT Jaya Media Internusa (PT JMI) hari ini resmi beroperasi di Kampung Kute Baru, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, resmi beroperasi, Sabtu (6/2/2021).

Perusahaan industri primer hasil hutan bukan kayu tersebut, akan mengolah getah pinus menjadi ragam produk, seperti terpentin, gondorukem, dan produk lainnya.

Pada 2020, keberadaan perusahaan tersebut sempat menjadi perhatian sejumlah aktivis, karena dianggap mencemari sungai yang ada di Kampung Isaq, serta proses izin yang dianggap belum selesai dipenuhi perusahaan tersebut.

Bahkan sejumlah protes massa juga terjadi beberapa kali, karena PT JMI dianggap tetap beroperasi meski izin belum diperoleh.

PT JMI Lakukan Perombakan Manajamen

Suaragayo.com menyambangi PT JMI, tepat pada saat perusahaan itu kembali beroperasi, Sabtu pagi.

Berdasasarkan pengakuan Manager Eksternal PTJMI, Idham, perombakan manajemen telah dilakukan perusahaan itu pada awal Januari 2021.

“Kita sekarang sudah manajemen baru, kami berbenah. Segala bentuk izin juga kami juga sudah penuhi, termasuk sosialisasi,” kata Idham.

Mengaku Sudah Lakukan Sosialisasi

Sementara itu, sosialisasi PT JMI kepada masyarakat di Kecamatan Linge jelas Idham, sudah dilakukan pada 4 Februari lalu.

“Segala bentuk perizinan seperti SK BKPM RI, sertifikat hasil uji lab dari Sucofindo terkait limbah pabrik, sudah kita sampaikan kepada pemerintah daerah dan unsur masyarakat,” sebut Idham.

Limbah Sudah Dianalisis

Manajer eksternal PT JMI, Idham juga mengaku, hasil uji laboratorium air limbah PT JMI sudah dikeluarkan Sucofindo pada 27 Januari lalu.

“Kita sudah kirimkan sampel, dan sudah diuji, sekarang insya Allah, limbah di pabrik kami sudah menenuhi standar pengolahan,” jelas Idham yang juga putra Isak tersebut.

Pembuangan Limbah Memenuhi Standar

Sementara itu, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di pabrik PT Jaya Media Internusa, dianggap sudah sesuai dengan tuntutan masyarakat, yaitu ramah lingkungan.

“Kami sudah buat instalasinya, ada kerleng dan ikan yang hidup di instalasi yang kami buat. Setelah beberapa kali proses, baru air itu bisa dialirkan,” ungkap Idham, sembari menunjukkan instalasi yang dimaksud.

Selain itu, pihaknya sudah mengganti bahan bakar untuk pengolahan getah pinus, yang semula menggunakan batu bara, kini menggunakan cangkang sawit yang lebih ramah lingkungan.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button