GAYOOlahragaTakengonTravel

Keseruan Gayo Enduro di Aceh Tengah yang Diikuti 252 peserta

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Event Balap Sepeda Gayo Enduro mendapat antusiasme dari peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Perhelatan yang digelar oleh North Sumatera Enduro (NSE) bekerjasama dengan Ikatan Sepeda Sports Indonesia (ISSI) tersebut diikuti oleh 252 peserta, yakni 130 peserta gowes bareng dan 122 peserta race Enduro.

Antusiame peserta mulai terlihat saat peserta berkumpul di garis start di Bur Pepara atau Bur Origon di Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

Setelah dilepas oleh Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, ratusan peserta Gowes Bareng (Gobar) dan race Enduro kemudian mengayuh sepeda langsung melalui jalur terpisah.

Jika peserta Gobar melintasi jalur yang tidak begitu sulit dan tembus di Kampung Mendale, 117 peserta race enduro yang lolos pada kualifikasi sehari sebelumnya, langsung melalui jalur yang sulit sepanjang 4 kilometer dari Bur Pepara tembus ke kawasan Puteri Pukes, Kebayakan.

Jalur yang dilintasi kedua jenis lomba tersebut memiliki khas tersendiri, yakni pemandangan perbukitan, perkebunan kopi maupun bentangan Danau Lut Tawar.

Salah seorang peserta race, Hani Nining (32) dari klub Bank Aceh Race Cabang Bireuen memuji pelaksanaan NSE seri 1 Gayo Enduro 2021 di Bur Pepara, aceh Tengah. Ia mengaku sangat menyukai pemandangan dan track yang dilalui saat lomba.

“Ini luar biasa bisa ikut serta karena panitia dan track yang dilalui juga mendukung,”

Nining yang sebelumnya mengaku belum pernah mengikuti enduro, karena dirinya biasanya mengikuti Goes Bareng (Gobar) saja.

“Alhamdulillah sampai finis walau ada rintangan menghadang. Sehari sebelumnya sempat jatuh ke jurang. Namun karena sampai ke finish, jadi bisa melanjutkan ke babak race enduro,” kata Nining.

“Tracknya curam, tapi memang layak dan mantap, memacu adrenalin,” lanjutnya.

Bagi karyawan Bank Aceh ini, untuk mengikuti lomba harus memiliki mental yang baik karena melalui jalur yang sulit.

“Kalau salah-salah bisa cidera dan masuk ke jurang, dan harus teliti,” sebut Nining.

Ia mengaku bisa menyelesaikan balapan Enduro setelah sempat dua kali terjatuh.

“Turunannya curam. Saya bisa melalui waktu sekitar 52 menit, sempat terjatuh dua kali. Sampai finish gak ada cidera, yang ada capek,” ungkapnya.

Nining menyebut track yang dalam event Gayo Enduro sudah layak menggelar balapan skala nasional maupun internasional, namun harus menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung.

“Kecuali sudah ada pembatas. Namun skala Nasional sudah paten. Cuma karena belantara, jadi kalau untuk ajang nasional atau internasional yang mendatang bisa ditata kembali,” jelasnya.

Ia berharap Gayo Enduro dapat dilaksanakan setiap tahun, sehingga menarik pesepeda dari seluruh Indonesia.

“Wajib dilanjutkan, sebab tracknya memang terbaik. Insya allah akan ikut kalau ada event lagi. Karena track takengon ini tidak pernah gagal dan mendukung,” sebut wanita yang ikut kelas women open Gayo Enduro ini.

Nining menjelaskan, selana berada di Aceh Tengah dirinya memilih menginap di tenda yang disewakan di pinggiran Danau Lut Tawar.

“Malam kemarin di tenda, karena kecelakaan tadi malam saya dievakuasi ke hotel,” tambahnya.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button