AcehGAYOTakengon

Kisah Guru Honorer di pedalaman Gayo, Lewati Longsor, Hadapi Hewan Liar Demi Rp 22.000 Per Jam

Penulis: Nihayatul Afifa Husna

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Yanti Purmasari (31) guru honorer di SMAN 11 Takengon, Aceh Tengah, selama delapan tahun terakhir melewati aneka rintangan untuk mengajar. Mulai dari longsor menutup badan jalan hingga melewati lumpur.

Berangkat dari rumahnya Desa Belang Bebangka, Kecamatan Pegasing, saat menuju sekolah kerap berhadapan dengan longsor yang menutup badan jalan.

“Kalau sekadar melewati udara dingin sekali pagi-pagi itu sudah biasa. Delapan tahun mengajar membuat saya melewati berbagai pengalaman, paling berat itu ya melewati longsor,” kata Yanti per sambungan telepon kepada Suaragayo.com, Jumat (27/11/2020).

Guru lainnya, Munawwarah (32), kerap bertemu hewan liar yang melintas di jalan menuju sekolah. Warga Desa Blang Kolak 1, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah ini selama 11 tahun terakhir merasakan duka itu.

“Sering ketemu monyet, ular dan babi di jalan,” ujar Munawwarah sambil berkelakar.

Meski melewati medan yang sulit, dua guru honorer ini terus mengajar. Wajah siswa di sekolah membuat mereka bertanggungjawab untuk hadir setiap hari.

Soal honor, sungguh miris. Awalnya mereka hanya dibayar Rp 7.000 per jam. Tiga tahun terakhir naik menjadi Rp 22.000 per jam.

“Tiga tahun ini status saya sudah guru kontrak Provinsi Aceh,” terangnya.

Munawwarah

Untuk menutup biaya hidup, Yanti memilih berjualan jajanan di rumah, sedangkan Munawwarah berjualan pizza.

“Kalau dari gaji guru ya tak cukup. Maka, kami berjualan saja,” pungkas Yanti.

Editor : Aman Dimas

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button