GAYOTakengon

Kisah Nusrah: Gagal Usaha Batu Bata, Sukses Berkebun Buah Naga di Tanah Linge

Penulis : Nihayatul Afifah Husna

TAKENGON,SUARAGAYO.COM- Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Agaknya kalimat tersebut pantas disematkan kepada Nusrah (60), seorang wanita dengan segala usaha kerasnya yang mampu menghasilkan 3 hingga 4 juta rupiah setiap bulan, dari kegigihannya menjadi petani buah naga.

Nusrah merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 orang perempuan.

Suaminya, Wustha (61), merupakan seorang wiraswasta yang ikut mendukung Nusrah dalam mengembangkan usahanya ini.

Perkebunan milik Nusrah berada di kampung Gelampang Gading, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Lahan pertaniannya ini dikelilingi pegunungan, udara yang segar ditambah hijaunya pemandangan seolah menjadi perpaduan yang pas untuk dinikmati.

Cerita dimulai pada awal 2013 silam. Nursah bersama keluarga pindah dari Takengon, tepatnya dari CV Bukit Utama menuju Kampung Gelampang Gading. Mulanya usaha yang dijalankan Nursah adalah pabrik batu bata.

Namun, karena kekurangan sumber daya manusia untuk mengerjakan pekerjaan ini, mengharuskan Nursah untuk mendatangkan dari Medan. Oleh sebab itu Nursah menghentikan usahanya itu dan mencoba usaha lain.

“Pertama pabrik bata, disini susah tenaga kerjanya jadi di bawa dari Medan. Setelah itu saya mencoba menanam buah naga,” ucap Nursah saat disambangi Suaragayo.com, Senin (28/9/2020) lalu.

Mulanya buah naga ditanam di Kampung Belang Bebangka, yang merupakan bantuan dari Pemerintah Aceh, yang saat itu dipimpin oleh Irwandi Yusuf. Namun suhu udara di Blang Bebangka dianggap tidak layak untuk menanam buah naga.

“Tapi disana tanaman ini tidak mau berkembang mungkin hawanya yang kurang cocok,” jelas Nusrah.

Buah Naga pertama kali yang ditanam didepan rumah Nusrah.

Diusianya yang sudah tidak muda lagi, dengan telaten Nursah merawat pohon buah naga hingga mencapai 350 batang dengan pendapatan 1 ton tiap tahunnya.

” Saya bawa tiga pohon kesini, cuma 3 terus ditanam di depan rumah sekitar 2 tahun kemudian baru berbuah saya pindahkan ke lahan sekitar 40 batang,”

“Tahun lalu ada 1 ton, tahun ini belum saya jumlahkan hasilnya. Tapi, setiap bulannya sekitar 300 kilogram itu ada,” ucap Nursah.

<!–nextpage–>

Siapa sangka, buah naga yang tertanam di lahan seluas kurang lebih 50 x 50 centimeter milik Nusrah, dulunya berasal dari tiga bibit naga yang ditanam di depan rumah.

Buah naga yang di sudah panen diantar langsung ke loket penjualan buah di Pasar Paya Ilang, juga toko buah di Kampung Pendere dan Kampung Uning.Harga pasaran buah naga dijual Nursah Rp25.000 per kilogram.

Bukan hanya itu, Nusrah juga menjajakkan jualannya ke sejumlah kantor, seperti Bank Aceh dan Puskesmas.

Disamping itu Nusrah juga melakukan penjualan via daring, sembari menjadikan kebunnya sebagai lokasi wisata buah naga.
Hanya dengan tarif Rp30.000 per kologram, siapapun yang datang bisa langsung memetik buah naga sendiri, sekaligus berswafoto dilahan perkebunan itu sampai puas.

Namun, Nusrah mengakui, sejak wabah Covid-19 merebak hingga ke Aceh Tengah, pelancong buah naga di lahan miliknya penurunan jumlah.

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button