AcehEdukasiGAYOTakengon

Kisah Tgk Saiful, Bangun Sekolah untuk Warga Kurang Mampu di Atu Lintang dengan Biaya Sendiri

Penulis : Nihayatul Afifah Husna

Tgk Saiful MS Amirullah (46), berdiri di depan bangunan sedehana di Desa Atu Lintang, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (23/11/2020). (Foto: Nihayatun Afifah Husna)

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Tgk Saiful MS Amirullah (46), berdiri di depan bangunan sedehana di Desa Atu Lintang, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (23/11/2020).

Sepuluh tahun lalu, ayah empat anak dan suami dari Rubiah (44) ini berniat mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Atu Lintang. Saat itu, hanya sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang ada di kecamatan tersebut.

“Saya berniat bangun sekolah menengah atas bercirikan islami saat itu. Tidak ada niatan buat saingan dengan sekolah lain. Karena, SMA memang belum ada di Atu Lintang waktu itu,” kata Tgk Saiful, kepada Suaragayo.com.

Niat itu terealisasi empat tahun kemudian, persis tahun 2004. Berdirilah Madrasah Aliyah (MA). Siswanya kalangan kurang mampu.

“Waktu itu siswa pertama 23 orang. Semua kurang mampu. Tak punya biaya sekolah ke luar Kecamatan Atu Lintang,” kenangnya melambung ke peristiwa penerimaan siswa baru madrasah itu.

Tak mudah membangun sekolah. Baru tahun pertama, kondisi keuangan sekolah morat-marit. Saat itu, modal awal hanya Rp 6 juta. Itu pun digunakan buat beli buku plus gaji guru.

Uang tak seberapa itu langsung ludes. “Uang Rp 6 juta itu pun saya ambil dari usaha lainnya, yaitu membuka gerai pembayaran rekening listrik. Tak cukup. Berat sekali. Gurunya tujuh orang termasuk saya, tahun pertama, di akhir tahun, uang itu habis sudah,” sebutnya.

Lalu setahun kemudian, tahun ajaran baru 2005-2006, siswa yang mendaftar hanya dua orang. Terpaksa siswa itu dialihkan ke Pesantren Darul Mukhlisin.

“Angkatan pertama saya ingat yang tamat itu hanya 13 orang,” katanya.

Karena kendala pendanaan dan siswa, maka madrasah yang dibangun susah payah itu pun terpaksa ditutup.

Saiful pembelajaran sejati. Tutup sekolah satu, dia membangun sekolah lainnya. Kali ini madrasah ibtidaiyah.

“Untuk madrasah ibtidaiyah itu modalnya Rp 8 juta. Gurunya tiga orang, muridnya 17 orang,” katanya.

Cobaan kembali datang. Tahun 2007, madrasah ini hanya punya murid delapan orang.

Lebih Banyak Guru daripada Pelajar
Tahun 2008, Saiful mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Gurunya tujuh delapan orang. Muridnya tujuh orang. Lebih banyak guru dibanding murid kala itu.

“Tahun 2012 MTs mulai banyak pelajarnya,” kata Saiful.

Tidak kapok dan trauma, 2015, Saiful mendirikan lagi Madrasah Aliyah (MA). Kali ini mulai lebih baik. Bahkan alumnus madrasah ini sudah melanjutkan pendidikan tinggi ke sejumlah perguruan tinggi dan pesantren modern di tanah air.

“Saya terus berusaha di jalur pendidikan. Agar Atu Lintang semakin banyak generasi masa depan yang terdidik. Pada akhirnya akan memajukan daerah asalnya, daerah leluhurnya,” pungkas Saiful.

Editor: Aman Dimas

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button