DuniaEdukasiGAYOTakengon

Muchlis Gayo Pernah Beberkan Awal Pembahasan HUT Kota Takengon dan Sebut Masih Bisa Diubah

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Pada Tangal 17 Februari 2021, Kute Takingen (Kota Takengon) akan merayakan HUT ke-444.

Pada dasarnya, angka tersebut masih menjadi polemik ditengah masyarakat, sebab tidak sedikit yang menduga angka tersebut hanya klaim sepihak yang akhirnya disepakati oleh Pemkab Aceh Tengah.

Suaragayo.com mengulas kembali asal muasal angka 444 tersebut, berdasarkan keterangan tertulis mantan Kadis Pariwisata Aceh Tengah, Muchlis Gayo.

Sebab, HUT Kute Takingen dimulai pada saat kepemimpinannya di dinas tersebut.

Sekitar awal 2011, Muchlis Gayo menghadap bupati yang kala itu dijabat oleh Nasaruddin atau Pak Nas.

Kepada kepala daerah, ia kemudian mengusul agar nama Kota Takengon memiliki hari jadi dengan berbagai alasan.

“Tujuan usulan itu adalah, pertama destinasi wisata baru, ajang pameran hasil pembangunan yang dicapai SKPD setiap tahun,” kata Muchlis Gayo, seperti tertulis dalam status akun facebook pribadinya pada 16 Februari 2020.

Selain itu, hari jadi tersebut diusulkan terkait penyelenggaraan pacuan kua Pordasi tingkat Nasional, yang melibatkan peserta dari seluruh daerah dan nusantara, yang memiliki even pacuan kuda Pordasi. Tentu dengan bayaran, sehingga dapat sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Pacuan Kuda HUT RI tetap kuda lokal agar kuda Gayo terpelihara dan berkembang ( tidak berbayar),” tulis Muchlis kala itu.

Berikutnya ia menyinggung soal event Pengembangan “kebudayaan Gayo” dalam arti luas.

“Sepeti festival seni khusus lokal, Musim berume, lomba permainan anak2 masa lalu,” jelas Muchlis Gayo.

Terkait pelaksanaan, Muchlis Gayo menganggap dilaksanakan tentatif mulai 1 Februari hingga 30 Desember. Sehingga segala event tersebut masuk menjadi kalender wisata Aceh Tengah.

Kepada Pak Nas saat itu, Muchlis Gayo juga menyampaikan alasan lain yang mendukung dilaksanakannya HUT Kute Takingen.

“Bupati merespon. Setelah terjadi dialog panjang, karena sudah bertahun-tahun Tim kajian HUT Aceh Tengah dibentuk tapi tidak berhasil. Saya usulkan HUT Kota, bukan HUT Kabupaten Aceh Tengah,” sebut Muchlis Gayo.

Berdasarkan kajiannya, HUT itu dikaitkan dengan sejarah, peristiwa, kejadian lahirnya suatu kota.

“Beliau (Pak Nas) setuju untuk di tindak lanjutkan. Satu bulan saya persiapkan proposal nya, Bupati menyerahkan ke DPRK untuk dengar pendapat dengan tokoh masyarakat, pemuda, budayawan, sejarawan, mahasiswa, LSM, dan lain-lain,”

Ia kemudian mengusulkan hari jadi Kota Takengon dimulai dari 17 Februari 1903 atau 1906.

“Angka 17 karena tidak ada data, dan sumber yg mengetahui tanggal berapa kios-kios dibangun di seputar Jalan Malem Dewa, Sudirman, Peteri Ijo. Kemudian angka 17 = 17 ramadhan, 17 rakaat shalat wajib dalam sehari semalam,” ungkapnya.

Sementara usulan HUT pada bulan Februari mengingat ada 2 kali pelaksanaan pacuan kuda dalam setahun selama 6 bulan, maka pelaksanaan pacuan kuda pada 17 Agustus tidak mungkin digeser. Interval waktu 6 bulan tersebur tulis Muchlis, mempermudah pertanggung jawaban keuangan SKPK.

Pengusulan Tahun 1904 atau 1906, Muchlis Gayo juga mengungkap alasannya. sebab pada masa itu diperkirakan tanksi tentara Belanda diseputar SPG, SD 6, SMP 7 Kantor Kodim, buntul kubu dibangun setelah Van Daalen menguasai tanah Gayo

“Umumnya hari ini kita lihat peristiwa munculnya “Kota”. Jika ada peristiwa pembangunan infrastruktur, muncul pedagang makanan, warung kopi, kedai rokok, lambat laun transaksi sesaat berubah menjadi tetap, kios berubah jadi toko dan seterusnya,” tulis Muchlis Gayo.

Mengapa menjadi 434 tahun (Saat itu Muchlis Gayo menulis status facebook satu hari menjelang HUT ke-434 Kute Takingen, red), Komisi D DPRK ketua Drs Riduan jelas Muchlis, merasa perlu menghormati para orangtua, dan forum kala itu baiknya menerima usul almarhum Mahmud Ibrahim, dengan mengambil angka dari kelipatan usia ayahnya yang bernama Aman Lapan, yg pindah dari Mungkur ke daerah tanksi.

“Jika Aman Lapan tutup usia 90 tahun, dari tutup usia ke tahun 2011 diperkirakan 35 tahun sama dengan 125 tahun, usia ayahnya Aman Lapan 125 tahun, jadi 250 tahun. Jadi tidak jelas alat ukurnya,”

“Terakhir terdengar bisik2 korek api, atas permintaan tokoh-tokob tua, supaya (Usia Kute Takingen) dituakan. Sebab pada Tahun 2011, DKI saja berusia 471 Tahun,” terang Muchlis Gayo.

Namun ia menyebutkan, Qanun Daerah Tentang HUT Kota Takengon masih memberi peluang untuk dilakukan perubahan.

“Jika HUT Kota sebaiknya 1906 bersamaan dengan takluknya Perang Gayo alas pada tahun 1905/1906 baru berdiri pemerintahan Hindia Belanda di Takengon. Jika HUT Kabupaten Aceh Tengah sudah tidak layak karena wilayahnya tahun 1947, sudah dimekarkan menjadi 4 kabupaten,” pungkas Muchlis Gayo.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button