GAYOSosialTakengon

Menengok Layangan Raksasa yang Terbuat dari Plastik Mulsa Milik Fregi di Blang Mancung Bawah

Penulis: Desi Mentari

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Apabila beranjak ke sebuah lapangan yang hijau di Blang Macung Bawah, langkah kaki para penduduk setempat akan terlihat saat menyaksikan pertunjukan layangan menjelang sore.

Berbagai jenis layangan perlahan mulai diterbangkan. Kali ini bukan hanya dimainkan oleh para anak-anak akan tetapi juga melibatkan para remaja dan orang dewasa.

Warga Blang Mancung Bawah, Kecamatan Ketol, saat itu menikmati suasana sore yang begitu cerah dengan datang ke lapangan tersebut.

Apalagi kondisi angin dianggap cocok untuk menerbangkan layangan.

Suara teriakan terdengar saat salah satu layangan jatuh di karenakan benang yang putus.

Namun ada layangan yang unik yang tampak terbang menjulang ke atas. Layangan tersebut dibuat dengan ukuran besar, dengan bahan dasar dari dari kertas dan plastik mulsa yang biasa di gunakan untuk bercocok tanam.

Saat dikunjungi Suaragayo.com pada 11 Oktober lalu, pemuda yang mengikuti bermain layang-layang, Fregi Syahputra (22) mengatakan, bermain layang-layang di lapangan Blang Mancung sudah kedua kalinya di laksanakan saat itu. Pertama kali dilakukan saat momentum 17 Agustus, dan ini adalah yang kedua kalinya.

Layangan yang berukuran besar ternyata hasil inspirasi Fregi sendiri.

“Pemuda disini pertama kali melaksanakan pemainan layangan pada 17 Agustus lalu, akan tetapi tidak seantusias kali ini. Saya buat layangan besar ini dari inspirasi sendiri, ukuran layangan milik saya berukuran sekitar 4 atau 5 meter,” jelas Fregi.

Ia juga kembali memaparkan jika layangan yang di buat dari plastik mulsa dan pada malam hari layangan juga di terbangkan.

“Memilih menggunakan plastik karena, untuk ukuran sebesar ini jika menggunakan kertas maka ia akan jebol saat di terbangkan. Malam hari saya menggunakan lampu otomatis pada layangan agar tampak terang di langit, tiap malam setelah sholat isya kami terjun kelapangan untuk menerbangkan layangan,” lanjut Fregi.

Tali yang digunakan untuk menerbangkan layang-layang besar ini merupakan jenis tali atom, yang berukiran sekitar 4 milimeter. Sementara alasan menggunakan plastik mulsa sebagai bahan dasar agar saat hujan layangan tidak terpengaruh dan tidak ada istilah jebol.

Suasana sore di lapangan sangat ramai saat warga berbondong-bondong menuju lapangan untuk menyaksikan layangan. Sumarni (45), saat ditemui di lapangan itu tampak menikmati suasana pertunjukan layang -layang yang di terbangkan. Sumarni menyaksikan suasana itu bersama warga sekitar.

“Acara ini seru untuk kami warga sekitar khususnya, jika sore hari cuaca bagus inilah yang kami tunggu, apabila hujan maka tidak ada layangan yang di terbangkan. Acara layangan ini udah lebih dua mingguan dilaksanakan,” ujar sumarni.

Warga yang menyaksikan momen itu merupakan penduduk kampung Blang Mancung Bawah dan Blang Mancung Atas.

“Disini ada dua kampung yang mengikuti acara ini, dari Blang Mancung Bawah ini sama dengan kampung Blang Mancung Atas, layangannya pun bervariasi bentuknya, ada yang seperti ikan lele, dan banyak lagi. Jumlah layangan yang di terbangkan sekitar 40 lebih layangan untuk siang hari akan tetapi untuk malam sekitar 15 hingga 20 lebih layang-layang ini untuk malam palingan yang memiliki lampu aja,” jelas Sumarni.

Bermain layang-layang ini menurutnya, bukan untuk ajang perlombaan, melainkan hanya untuk hiburan saja saat sore hari tiba dan malam hari.

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button