AcehGAYOOpini

Mengenal John Bowen “Aman Genali”, Antropolog Terkemuka Dunia yang Memulai Karir di Gayo

Aman Genali Meneliti selama Sepuluh Tahun

Oleh : Win Wan Nur

OPINI, SUARAGAYO.com – John Richard Bowen adalah salah seorang antropolog agama paling terkemuka dan paling terkenal di dunia terutama di bidang antropologi terkait Islam.

Bowen adalah Profesor Seni & Sains di University of Washington in St Louis yang berulang kali menjadi Profesor Tamu di London School of Economics.

Bowen telah mempelajari Islam dan masyarakat di Indonesia, secara spesifik Gayo sejak akhir 1970-an. Bowen melakukan penelitian di Gayo dengan memilih Kampung Isak, Kecamatan Linge sebagai wilayah kerja utamanya.

Dalam masa penelitian inilah, Bowen mendapatkan nama Gayo-nya, Jauhari, yang merupakan pemberian Tengku Asaluddin, ayah angkatnya.

Hasil penelitiannya di Gayo, dipakai oleh Bowen sebagai bahan disertasinya untuk mendapatkan gelar Ph D dari University of Chicago. Gelar yang akhirnya dia peroleh pada tahun 1985.

Oleh Bowen, disertasi ini ditambahi dengan berbagai data yang didapatkan. Kemudian dijadikan sebuah buku dengan judul “Sumatran Politics and Poetics; Gayo History 1900 -1989” yang terbit pada tahun 1991.

Buku ini bisa dikatakan adalah catatan antropologi Gayo pertama pasca Hurgronje, yang sampai saat ini, “Sumatran Politics and Poetics” masih menjadi catatan tentang Gayo yang paling objektif, paling bernilai ilmiah, paling lengkap dan komprehensif.

Buku pertama dalam karirnya sebagai antropolog itu kemudian diikuti dengan karya-karya berikutnya tentang Gayo, “Muslim Through Discourse” terbit 1993 dan terakhir “Law and Equality in Indonesia: An Anthropology of Public Reasoning” yang terbit tahun 2003.

Setelah menyelesaikan karya-karyanya tentang Gayo, Bowen mulai mengkhususkan perhatiannya untuk menganalisis bagaimana umat Islam (hakim dan cendekiawan, tokoh masyarakat, dan warga negara) hidup dalam masyarakat global, melintasi sumber-sumber norma dan nilai yang majemuk, termasuk beragam interpretasi terhadap tradisi Islam, aturan dan keputusan hukum, dan norma sosial setempat.

Bowen menggunakan penelitian ini untuk mengkritik wacana publik tentang Muslim dan Islam. Dari sinilah Bowen membangun reputasinya sebagai seorang antropolog bidang Islam yang paling terkemuka.

Sejak tahun 2001, antropolog yang fasih berbahasa Gayo ini banyak bekerja di Perancis, Inggris, dan Amerika Utara terkait dengan masalah pluralisme, hukum, dan agama, dan khususnya pada upaya kontemporer untuk memikirkan kembali norma-norma Islam dan hukum sipil .

Karya-karyanya yang terkemuka terkait Prancis antara lain “Why the French Don’t Like Headscarves” (Princeton, 2007,) Buku ini membahas tentang perdebatan hangat yang saat ini di Perancis tentang Islam dan laïcité (sekularisme radikal ala Prancis) . “Can Islam be French?” (Princeton, 2009,) dan banyak lagi.

Selain kesibukannya mengajar sebagai professor di Washington University in St Louis. Saat ini Bowen yang lebih suka dipanggil Aman Genali oleh kerabat Gayo-nya itu juga menjabat sebagai direktur Trans-Atlantic Forum.

Bowen juga menjabat sebagai presiden Scientific Council of the French Network of Institutes for Advanced Study dari 2008 sampai 2017, sekaligus sebagai ketua Council for European Studies (New York) dari tahun 2011 sampai 2013.

Bowen merupakan anggota dewan editorial berbagai jurnal ilmiah, termasuk di dalamnya Tinjauan Politik dan Antropologi Hukum dan Studia Islamika (Jakarta).

Pada 18 April 2018, bersama Presiden Barack Obama, aktor Tom Hanks dan Hakim Agung Amerika, Sonia M. Sotomayor.

John Richard Bowen alias Jauhari alias Aman Genali, yang menganggap Isak sebagai kampung halamannya ini, terpilih dan dilantik sebagai anggota baru American Academy of Arts and Sciences.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button