Bener MeriahGAYOPolitik

Menguak Potensi Ketua DPD II Golkar Bener Meriah, Sarkawi Sepertinya Tak Masuk Bursa

Penulis: Iwan Bahagia

BENER MERIAH, SUARAGAYO.com – Masa depan kepengurusan DPD II Partai Golkar Bener Meriah akan ditentukan 23 Agustus nanti lewat Musda yang akan digelar di Takengon, Aceh Tengah.

Sejauh ini, masih M Amin yang masih berpotensi besar menjabat sebagai Ketua DPD II Golkar Bener Meriah.

Kepada Suaragayo.com, Jumat (21/8/2020) malam, M Amin mengakui rencananya maju sebagai Ketua Golkar di Bener Meriah.

M Amin bahkan disebut-sebut mendapatkan “diskresi” alias “surat sakti” dari DPP Golkar Bener Meriah pasca sepeninggalan Ahmadi dan Plt Ketua DPD II Golkar Bener Meriah, Hendra Budian.

Mengenai ini, M Amin yang juga eksportir kopi Arabika Gayo itu saat dihubungi Suaragayo.com Jumat (21/8/2020) enggan memberi tanggapan.

Jika ditelaah berdasarkan rujukan dari berbagai sumber, mendapat diskresi memang tidak ada jaminan otomatis terpilih menjadi ketua sebuah organisasi, termasuk partai politik. Karena tetap ditentukan dalam sebuah forum.

Diskresi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI) diartikan sebagai kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi. Namun dalam pemerintahan dan organisasi, bisa berbeda dalam penggunaan kata diskresi.

Biasanya diskresi disebut dengan “surat sakti” dari sebuah jenjang tertinggi atau struktur organisasi paling atas.

Apabila ditulusuri, dalam dinamika pencalonan Ketua DPD II Partai Golkar Bener Meriah, ada isu menarik soal “surat sakti” tersebut.

Konon, Bupati Bener Meriah saat ini, Sarkawi, turut mendapat dekresi dari DPP Partai Golkar untuk menjadi calon ketua.

Membuktikan itu, Suaragayo.com beberapa waktu lalu menghubungi Sarkawi lewat pesan singkat, namun orang nomor satu di Bener Meriah itu enggan menanggapi.

Mencuatnya soal diskresi yang diperoleh Sarkawi, sejak kepergian Wakil Ketua Karateker PKB Bener Meriah tersebut ke Jakarta baru-baru ini.

Memang Sarkawi diketahui mengurusi persoalan program Pemkab ke sejumlah kementerian. Namun berdasarkan informasi yang diterima Suaragayo.com, Sarkawi sempat bertemu petinggi DPP Partai Golkar.

Sejumlah sumber yang tidak ingin disebut namanya meyakini kebenaran soal diskresi yang diperoleh Sarkawi. Namun seorang sumber mengungkapkan itu ada 18 Agustus 2020.

Kemudian pada Jumat (21/8/2020), Suaragayo.com menelusuri sejumlah sumber lain yang juga tidak ingin disebut identitasnya.

Sumber ini menyebutkan bahwa kemungkinan Sarkawi tidak akan maju sebagai calon Ketua DPD II Partai Golkar.

Indikasi kuat, Sarkawi tidak jadi mencalonkan diri sebagai Ketua Golkar Bener Meriah karena beberapa faktor.

Pertama adalah soal perolehan kursi PKB, partainya Sarkawi yang sama dengan jumlah kursi Golkar di DPRK Bener Meriah, yaitu 5 kursi dari 25 ketersediaan kursi dewan.

Hanya karena perbedaan jumlah suara, PKB jadi Parpol urutan kedua di tingkat parlemen Bener Meriah, setelah Partai Golkar.

Artinya, dengan perolehan kursi itu, sama seperti Golkar, PKB sudah bisa berjaya mengusung calon kepala daerah atau berpengaruh besar terhadap pengambilan keputusan di lembaga dewan.

Kedua, sejumlah pengurus PKB dilevel provinsi dan nasional menolak Sarkawi mengambil alih kursi Golkar. Sebab Sarkawi dianggap berhasil menghantarkan PKB di Bener Meriah memperoleh kursi yang bisa dikatakan terbesar di Aceh.

Bahkan PKB dinggap turut menyokong kader dari wilayah tengah Aceh ke parlemen selain DPRK, yakni DPRA dan DPR RI.

Alasan lain dari Sarkawi tidak mencalonkan diri sebagai Ketua Golkar Bener Meriah menurut sumber itu, tidak begitu menjadi persoalan yang berarti.

Namun masa depan PKB menjadi alasan utama Sarkawi dipertahankan oleh sejumlah pihak, termasuk para tokoh pendukung Sarkawi di Bener Meriah.

Belum diketahui pasti apakah diskresi itu terlebih dahulu keluar, baru Sarkawi membatalkan, atau memang diskresi itu menunjuk nama lain yang disetujui oleh Sarkawi. Atau bahkan sama sekali tidak pernah dipegang sama sekali oleh Sarkawi. Namun potensinya, salah satu diantaranya akan terjadi. Termasuk diskresi terhadap kandidat lain tanpa sepengetahuan Sarkawi.

Dengan demikian, apabila M Amin juga memiliki diskresi, maka tidak ada yang mustahil, karena politik praktis bisa begitu adanya, bahkan dalam hitungan detik. Pun demikian hitungan detik pula keputusan diskresi itu bisa berubah.

Setelah Hendra Budian, seorang kader Golkar di Aceh menyatakan diri tidak akan mencalonkan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar, serta Tgk H Sarkawi yang kemungkinan besar tidak ikut konstalasi Musda Golkar Bener Meriah, plus Dailami jugs telah menyatakan diri tidak ikut serta, maka kemungkinan besar pemilihan ketua akan dilakukan secara aklamasi. M Amin akan menjadi Ketua Golkar Bener Meriah selanjutnya.

Namun meski demikian, kecenderungan politik tidak bisa ditebak. Jika tidak sesuai catatan tadi, maka kemungkinan akan terjadi dinamika lain yang bisa jadi terkadang sukar diterima logika orang yang awam politik praktis.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button