Bener MeriahGAYOHukum

P2TP2A Bener Meriah: “Kami Dampingi Korban Perkosaan Bila Diminta”

Penulis: Iwan Bahagia

BENER MERIAH, SUARAGAYO.com – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bener Meriah akhirnya menjawab ketidakterlibatan lembaga itu dalam proses persidangan kasus perkosaan pelajar kelas 1 SMA yang melibatkan 3 orang tersangka.

Kasus yang viral dan dipublikasi oleh sejumlah media, serta menjadi bahan perbincangan pengguna media sosial itu ditanggapi P2TP2A Bener Meriah melalui siaran pers yang dikirim kepada Suaragayo.com, Senin (14/9/2020).

“Sehubungan dengan ramainya berita kasus di Media Sosial terkait kasus permerkosaan gadis dibawah umur yang terjadi di Bener Meriah dapat kami nyatakan bahwa berita tidak benar,” tulis kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Bener Meriah, Susnaini.

Susnaini juga menyampaikan empat poin penjelasan terkait proses pendampingan korban yang telah dilakukan oleh P2TP2A Bener Meriah.

“Pertama, pendampingan korban pada pembuatan laporan pertama ke Polres Bener Meriah pada tanggal 31 mei 2020,” kata Susnaini.

Kedua, P2TP2A Bener Meriah mendampingi proses pemeriksaan berupa BAP awal dan lanjutan yang dilakukan oleh Unit PPA Polres Bener Meriah pada tanggal 1-2 juni 2020 sekaligus penyerahan barang bukti.

Susnaini juga mengaku bahwa pemeriksaan kesehatan terhadap korban dilakukan oleh tim ahli kesehatan.

“P2TP2A Mendampingi pemeriksaan kesehatan Reproduksi ke tenaga ahli kesehatan, Arwin Munawariko pada tanggal 4 juni 2020.

Selain itu lanjut Susnaini, pihaknya juga ikut mendampingi pemulihan ekonomi terhadap korban pada 29 Juni 2020.

“Keempat, mendampingi pemulihan ekonomi berupa bantuan dana dari Baitul Mal Propinsi Aceh pada tanggal 29 juni 2020,” jelas Susnaini.

“Konsep pendampingan P2TP2A Bener Meriah adalah konsep pemberdayaan, sehingga menurut kami untuk hak dasar korban yang sifatnya emergensi sudah terpenuhi,” sebut Susnaini.

Namun ungkapnya, P2TP2A tidak punya hak dan kewenangan mendampingi korban, apalagi pada saat proses persidangan di pengadilan.

“Secara hukum kami tidak memiliki wewenang masuk ke wilayah tersebut kecuali diminta oleh pihak keluarga, pengadilan, atau kejaksaan,” terang Susnaini.

Ketika proses persidang pertama dan kedua tulis Susnaini lagi, P2TP2A tidak mendampingi korban karena tidak mendapatkan konfirmasi baik dari kejaksaan maupun keluarga korban, hal itu kami anggap bahwa korban sudah mandiri dalam proses hukum.

“Demikian klarifikasi dari kami, kami ucapkan terima kasih,” pungkas Susnaini.

Sempat Menolak untuk Klarifikasi

Sementara itu, Jumat 11 September lalu, sejumlah wartawan yang meminta penjelasan terkait pengakuan keluarga bahwa korban perkosaan tidak didampingi saat proses hukum, sejumlah pegawai P2TP2A mengaku telah melakukan rapat terkait pemberitaan tersebut.

Namun mereka menyampaikan hasil rapat Jumat pagi, bahwa jawaban kepada awak media harus satu pintu.

“Namun kami mohon maaf, kami tidak bisa memberikan klarifikasi, karena harus satu pintu,” kata seorang pegawai P2TP2A yang diamini oleh pegawai lainnya.

Sehari sebelumnya, Ketua P2TP2A Bener Meriah, Nikmah Sarkawi mengatakan belum bisa berkomentar terkait persoalan tersebut.

“Saya akan diskusi dengan pengurus yang lain dulu,” sebut Nikmah, saat dihubungi Suaragayo.com Kamis malam.

Kasus perkosaan ini menjadi perhatian publik setelah berbagai pemberitaan, sebab melibatkan dengan 3 tersangka dibawah umur yang terdiri dari 2 pelaku perkosaan, 1 tersangka yang terlibat.

Ayah Korban, NS, saat ditemui beberapa waktu lalu mengaku seperti orang bodoh saat suasana sidang di Mahkamah Syar’iyah Sim

Berdasarkan informasi yang diperoleh Suaragayo.com, salah seorang pelaku diketahui pernah terlibat kasus perkosaan, setelah izin penangguhan penahanan keluar.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button