KopilingkunganOpini

Pandemi, Ego Bunga dan Kehancuran Alam Gayo

Oleh: Syah Antoni

OPINI, SUARAGAYO.Com – Hampir setahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan dunia.

Kehadirannya memberi luka yang cukup dalam bagi kehidupan manusia. Angka kematian terus bertambah, kemerosotan ekonomi global berujung bertambahnya angka kemiskinan, pengangguran, penurunan daya beli masyarakat merupakan sederet luka yang menanti untuk disembuhkan.

Ditengah persoalan ini dan kebosanan “mengurung diri” di muncul fenomena musim bunga. Melanda hampir seluruh penjuru negeri beribu pulau ini. Tak ketinggalan, juga dialami dialami oleh masyarakat di Dataran Tinggi Gayo. Betul, demam bunga.

Tentu kita belum lupa, kata “Janda Bolong” yang sempat menjadi tranding topik di sosial media.

Begitu ramai dibincangkan ditengah masyarakat baik dikalangan pecinta bunga maupun okeh mereka hanya nibrung meramaikan.

Popularitas tumbuhan yang memiliki nama latin monstera adansoni diikuti oleh jenis tanaman hias lain. Bahkan ada beberapa jenis tanaman hias yang sebelumnya dibiarkan terlantar dan hidup liar kini kembali diminati dan menempati posisi terhormat melalui pot berwarna putih yang ikut meramaikan trend bunga kali ini, seperti beberapa jenis keladi.

Namun alih alih, mengedepankan nilai estetika yaitu menikmati keindahan tanaman, terkadang mereka yang mengoleksi bunga dadakan ini cenderung mengedepankan gengsi semata. Bahkan dalam pandangan saya mendekati riya dan serakah.

Hal ini menyebabkan segala cara dilakukan agar koleksi tanaman hias miliknya nampak lebih berkelas atau berbeda dengan milik orang lain. Beberapa pilihan yang dilakukan dengan menggelontorkan sejumlah uang yang tidak sedikit, saling barter, atau berburu tanaman hias kepedalaman rimba.

Membayar biaya yang tinggi untuk beberapa pot tanaman hias tentu tidak dapat dilakukan oleh semua orang, hanya kalangan berkantong tebal saja yang punya kesehatan ini. Sehingga bagi yang memiliki uang terbatas, barter atau berbagi bibit adalah yang cara yang paling lazim dilakukan. Atau yang paling menghawatirkan, melakukan invasi kedalam hutan atau wilayah konservasi alam hanya sekedar mengambil tumbuhan yang sebagian keberadaannya dilindungi bahkan diambang kepunahan.

Saya menemukan banyak sekali tumbuhan langka diperjualbelikan dengan bebas dimedia sosial, dengan jumlah yang tidak sedikit. Seperti tanaman Kantung Semar (Nephentess ) dan beberapa jenis anggrek Paphiopedelum, salah satunya adalah anggrek yang disebut-sebut sebagai endemik Gayo, Paphiopedelum Bunge Belangi.

Memasuki hutan dan mengambil tanaman langka tentu menjadi malapetaka bagi konservasi alam. Hal ini juga menyebabkan keresahan bagi pemerhati lingkungan yang sebelum fenomena ini munculpun sudah bersusah payah menjaga kelestarian flora dan fauna yang dilindungi dan tersisa dialam liar. Ujungnya, semakin parah ‘penjarah’ kekayaan alam itu.

Pertama, karena ketidakmampuan melakukan klasifikasi tanaman yanh dilindungi dan tidak dilindungi. Kedua, domestifikasi tanaman yang tidak dibarengi dengan pengetahuan.

Hal ini menyebabkan kesalahan pada pemilihan media tanam, cara perawatan yang tidak benar membuat tumbuhan yang dibawa kerumah berakhir layu atau mati.

Persoalan diatas tentu menambah berat beban yang diemban para pemerhati lingkungan yang saban hari berjibaku dengan pelaku ilegaloging dan perambah hutan. Sehingga menulis melihat pemerintah perlu melakukan intervensi terkait pelestarian flora dilindungi sebelum terlambat.

Sebab apa gunanya regulasi atau tindakan bila objek yang disasar telah terlebih dahulu punah. Sebagai saran dan masukan dari penulis.

Bilapun ada, alangkah baiknya setiap Kabupaten di Dataran Tinggi Gayo menjadikan tumbuhan unik dan endemik di Gayo sebagai maskot tiap Kabupaten masing – masing, utamakan tumbuhan dilindungi.

Gayo sudah dikenal luas dengan kopi, dan masih banyak tumbuhan unik lain yang siap mengikuti jejak siti kwe ini. Dengan demikian, dapat sedikit membantu meringankan tugas berat yang diemban para pegiat lingkungan dengan memastikan tanaman tersebut tetap ada di habitatnya.

Sebagai penutup, marilah kembali kita renungi sebuah pepatah suku Indian Kuno : “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir tercemar, lalu ikan terakhir sudah ditangkap, pada saat itu kita akan sadar, bahwasanya uang tidak bisa dimakan”.

Mari berdoa, semoga pandemi ini lekas usai, mari berharap agar terjauh dari sifat gengsi, riya, dan serakah.

Merumahkan tanaman liar pada pot putih berderet mungkin menjadi sebuah kesenangan dan mengharapkan kebahagian. Namun menjamin tanaman langka tersebut ada dihabitatnya merupakan tugas kita semua. Salam lestari.

*Penulis adalah pegiat lingkungan di Bener Meriah, Aceh

Editor: Ismar Ramadhani/ A Dimas

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button