AcehGAYOOpini

Perangai Ukang Versus Covid-19

Ukang karena hoaks kerap terjadi

Penulis: Turham AG

Opini, Suaragayo – Kata “ukang” dalam Bahasa Gayo, jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti keras kepala, dapat juga diartikan sebagai pembangkang, tidak mengikuti perintah, atau tidak taat aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau berdasarkan kesepakatan bersama.

Ukang merupakan suatu sikap atau perangai dalam diri seseorang.

Bisa jadi ukang karena perlawanan dan ketidak patuhan terhadap perintah, meyakini perintah yang disampaikan itu salah atau keliru.

Ukang seperti ini lebih tepatnya bentuk protes terhadap ketidak benaran dan ingin meluruskannya.

Sikap ukang juga timbul akibat ketidakjelasan suatu informasi yang diterima seseorang atau bisa jadi telah termakan isu hoaks, disebabkan lemahnya pemahaman terhadap informasi yang diterima, ukang seperti ini lebih kepada pembenaran sepihak yang tidak tau kebenaran sesungguhnya.

Ukang karena membela kepentingan pribadi dan golongan yang cendrung memihak. Ukang jenis ini benar-benar ingin melawan kebenaran yang ada tanpa memperdulikan hakikat sebenarnya, artinya memaksakan kehendak walaupun ketentuan dan ketetapan yang telah ada.

Namun dalam kenyataan, ukang tetap dianggap menjadi streotif yang negatif, karena mempertahankan atau tidak mau menuruti apa yang telah diperintahkan, padahal ukang dapat juga bermakna positif untuk meluruskan sesuatu yang keliru karena penetapan keputusan cendrung menguntungkan sepihak.

Terkait dengan masa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) saat ini, orang yang terinfeksi semakin meningkat terutama di Bener Meriah dan Aceh Tengah, hampir semua orang mengatakan, akibat banyaknya orang abai atau ukang terhadap ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, terutama dalam mengikuti petunjuk protokol kesehatan.

Padahal ukang atau ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan bukan tanpa alasan.

Seperti adanya informasi simpang siur dan tidak jelas, misalnya isu 90 juta per pasien bagi rumah sakit.

Ada pula pasien Covid-19 yang mengharuskan oknum rumah sakit mengorbankan orang sakit bukan terpapar menjadi terpapar covid-19.

Padahal informasi yang keliru ini perlu diluruskan agar tidak terus berkembang dimasyarakat.

Demikian juga tentang isu yang belum tentu kebenaranya, bahwa orang atau keluarga yang mau mengakui terkena covid akan mendapatkan 30 juta rupiah.

Belum lagi isu thermo gun yang tidak valid. Informasi ini membuat masyarakat enggan melakukan pengecekan suhu tubuh.

Apalagi thermo gun dikabarkan yang dapat merusak otak, senjata yang sengaja dipersiapkan. Thermo gun keseringan erorr, semua itu membuat masyarakat gagal paham tentang arti pentingnya menjalankan protokol kesehatan.

Apabila dikaji dari sudut pandang agama beda lagi. Ada orang yang menganggap lebih takut kepada Allah SWT dari pada corona.

Kemudian tidak sedikit yang membuat sugesti kepada masyarakat untuk tidak mematuhi protokol kesehatan.

Padahal jika dipahami dalam agama itu sendiri harus ada doa, usaha, khtiar dan tawakal yang dikenal dengan istilah DUIT dalam beraktivitas sehari-hari.

Setidaknya, itulah informasi yang berkembang dalam masyarakat dan dipahami sebagai suatu kebenaran karena tidak adanya penjelasan dari pihak terkait yang mampu menyakinkan masyarakat.

Menyikapi hal demikian hendaknya pihak terkait menjelaskan informasi sejelas-jelasnya kepada masyarakat, untuk menjawab semua persoalan sehingga dapat dimaklumi dan masyarakat tidak lagi ukang.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button