BudayaGAYO

Perkenalkan Cecah Kekulit, Makanan Legendaris Masyarakat Suku Gayo

Makanan yang Masih Digemari Para Orangtua

Penulis: Desi Mentari

KULINER, SUARAGAYO.com – Setiap daerah diseluruh Indonesia, memiliki makanan tersendiri yang menggoda lidah para penyuka kuliner.

Mulai dari panganan bersumber dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan maupun hewani serta sejenisnya.

Makanan yang menjadi ciri khas Suku Gayo misalnya, selain asam jing, pengat dan cecah terong angur, salah satu kuliner yang memadukan unsur hewani dan tumbuh-tumbuhan di daerah ini adalah cecah kekulit.

Kuliner itu selalu disajikan ketika hari lebaran idul fitri atau idul adha oleh masyarakat Gayo tempo dulu.

 

Awalnya, kekulit (kikil kulit kerbau atau sapi) dipanggang, kemudian dicincang dan direbus sampai dengan tekstur kulit itu mulai terasa lembut.

Cecah kekulit juga diracik dengan beberapa komposisi bumbu, antara lain cabai, lawus, asam sunti, serai, jahe, bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun jambu biji, air santan, kelapa gongseng dan garam.

Bumbu tersebut dihaluskan, bersama dengan beberapa helai daun jambu biji. Akan tetapi, hanya air perasan daun jambu biji saja yang digunakan.

Ketika semua bumbu selesai dihaluskan, proses selanjutnya adalah menggabungkan bumbu dan kikil yang telah direbus.

Setelah dicampurkan, cecah kekulit sudah siap untuk di sajikan tanpa harus dimasak.

“Jika tidak ada cecah kekulit seperti ada yang kurang karena itu sudah menjadi makanan ciri khas saat hari raya,” ujar Saidah inen Susila (71), ditemui Suaragayo.com saat sedang mengolah cecah kekulit di Kampung Wihni Durin yang sudah beberapa dekade membuat kuliner tersebut, apalagi saat perayaan idul adha.

Cecah kekulit bisa juga dicampur menggunakan bihun (Orang Gayo umumnya menyebut mie hun).

“Kegunaan daun jambu dalam proses pembuatannya adalah agar tidak menimbulkan efek sakit perut setelah memakan cecah kekulit tersebut,” jelas Inen Susila.

Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang akan selalu di lakukan. Seperti halnya cecah kekulit, akan sulit dihilangkan untuk para sesepuh diberbagai desa di Dataran Tinggi Gayo

Mereka akan terus melanjutkan dan melestarikan panganan tradisional tersebut, walau termakan oleh waktu dan perkembangan jaman.

Saat ini tidak sedikit para orangtua yang khawatir kuliner legendaris ini tidak bisa diteruskan oleh anak muda di tanah Gayo.

Kegelisahan itu juga dirasakan Inen Susila, bahwa kelak segala tradisi Gayo termasuk cecah kekulit tetap dilestarikan sebagai makanan khas masyarakat yang hidup di dataran tinggi itu.

“Makanan ini harus tetap ada, jangan sampai hilang dari tradisi kita. Cecah kekulit adalah ciri khas masakan tradisional orang Gayo, dan jika boleh perkenalkan cecah kekulit ini kepada anak-anak cucu kita,” ungkap Inen Susila.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button