Aceh

Sering Mati Lampu dan Kesulitan Air Bersih, AMP Peunaron Beri Rapor Merah Kepada Pemkab Aceh Timur

Penulis: Iwan Bahagia

ACEH TIMUR, SUARAGAYO.com – Sejumlah aktivis yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peunaron (AMP) merasa geram, karena Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dianggap masih membiarkan warga di kawasan itu hidup terisolir dengan berbagai keterbatasan.

Mereka protes aliran listrik yang diperoleh secara terbatas dikarenakan sering terjadi pemadaman. Hal itu mempengaruhi komunikasi jarak jauh masyarakat di Kecamatan Peunaron karena tower seluler bergantung dengan listrik tersebut.

Keterbatasan listrik dan jaringan seluler itu juga menyebabkan proses belajar siswa sekolah secara daring di Kecamatan Penaron juga terganggu selama pandemi Covid-19.

Berikutnya, akses jalan di dalam kecamatan Peunaron dianggap sangat memprihatinkan, dan membuat roda perekonomian masyarakat setempat mengalami berbagai masalah.

Belum lagi persoalan air bersih yang sulit diperoleh warga, aktivis AMP menganggap seolah terjadi pembiaran Kecamatan Peunaron menjadi daerah yang terisolir.

Karena berbagai alasan itu, aktivis AMP memasang spanduk bernada protes di sekitar komplek Kantor Camat Peunaron sekitar Pukul 03.00 WIB dini hari, Senin (5/10/2020).

Spanduk itu berisi Rapor Merah dari AMP terhadap Pemerintah Aceh Timur yang dianggap tidak memperhatikan kawasan tersebut.

Rapor merah Pemkab Aceh Timur, tiada hari tanpa mati lampu, listrik yang mengendalikan jaringan, 1000 jalan berlubang, air bersih yang masih menjadi mitos.

Melalui siaran pers yang diterima Suaragayo
Com, Senin (5/10/2020), Ketua AMP Jamaluddin menjelaskan, pihaknya memberikan rapor merah kepada Pemerintahan Aceh Timur bukan tanpa alasan.

Sebab fakta dilapangan, tidak mencerminkan slogan yang dielu-elukan oleh para pejabat di Aceh Timur, yaitu Aceh Timur Bereh.

“Jika kita berkaca dengan pembangunan di Kecamatan Peunaron, tentu sangat kontradiksi dibalik selogan tersebut. Sebab AMP menilai, Pemerintahan Aceh Timur masih belum terbuka hati dan pikiran saat melihat sebuah fakta dan realita, bahwa Kecamatan Peunaron masih sangat-sangat tertinggal dalam persoalan apapun,” kata Jamaluddin.

<!–nextpage–>

Pihaknya menyebutkan, masyarakat setempat merasakan infrastruktur yang tidak sesuai harapan, kondisi itu menyebabkan para cukong kerap mempermainkan harga dari hasil panen para petani di Kecamatan Peunaron.

“Masyarakat setempat merupakan petani padi, sawit, pisang, kakao hingga jagung. Karena permainan harga dari para cukong, petani yang ada di Kecamatan Peunaron harus menjual hasil panen dengan harga yang sangat murah. Tentunya ini sangat merugikan bagi para petani, hal ini tentu sangat tidak diinginkan,” ucap Jamal.

Pihaknya berharap, agar Pemkab Aceh Timur dapat lebih memperhatikan daerah tersebut, sebab banyak pelajar yg menggunakan akses internet untuk belajar, namun terganggu akibat listrik yang berhubungan dengan akses internet.

“Oleh karna itu, kami mengharapkan tidak ada lagi kejadian mati lampu setiap harinya, dan juga akses jalan menuju kota lebih layak dibangun, apalagi untuk siswa yang sekolah nanti,” pungkas Jamaluddin.

Ia mengaku, selain memasang spanduk bernada protes di Kantor Camat Peunaron, pihaknya juga memasang spanduk yang sama di Kantor Pertanian yang berada di Peunaron.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button