GAYOOpini

Mengenal Politik “Mubiyo Koro” dalam Percaturan Politik

Oleh: Turham AG

Opini, SUARAGAYO.com – Percaturan politik dan jalannya roda pemerintahan itu selalu menarik. Baik di Indonesia, atau bahkan di Dataran Tinggi Gayo?

Secara harfiyah mubiyo koro dalam bahasa Gayo terdiri dari dua suku kata dasar. Biyo berarti halau, dengan awalan mu menjadi mubiyo sehingga bermakna kata kerja, menghalau. Adapun koro sebagai kata benda langsung diterjemahkan berarti kerbau.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa mubiyo koro adalah menghalau kerbau dari area peternakan (perueren) ke kawasan pedesaan.

Jarak tempuh antara perueren sampai kepedesaan mencapai puluhan kilometer, dengan prakiraan laju jalannya kerbau bisa mencapai waktu sehari semalam lebih.

Tanpa disadari dan tanpa maksud menyamakan dengan politik mubiyo koro, ternyata dalam menjalankan roda pemerintahan juga terdapat pel oh (perangai) sebagaimana kejadian dalam mubiyo koro.

Patut diacungi jempol kepada pemilik atau pengembala kerbau yang dengan sigap mampu mengendalikan beberapa pel oh saat mubiyo koro.

Sebelum lebih jauh membahas politik mubiyo koro, akan dijelaskan makna politik secara ringkas.

Politik secara sederhana dapat dipahami sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam pembuatan keputusan, baik dalam sekala besar seperti negara atau provinsi maupun dalam lingkup kabupaten, kecamatan maupun tingkat desa atau kelurahan.

Kata politik itu sendiri berasal dari kata politikos dalam bahasa Yunani, sementara dalam bahasa arab dinamakan dengan siyasah yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara.

Maksudnya dari rakyat untuk rakyat sebagai warga negara dalam proses membentuk dan pembagian kekuasaan berupa kebikakan yang berasal dari keputusan bersama.

Politik juga merupakan seni sekaligus sebagai ilmu dalam meraih kekuasaan dengan legal secara de facto dan yuridis.

Oleh sebab itu jika dalam meraih kekuasaan tersebut dilakukan secara seni tentu tidak akan terjadi perpecahan setelah salah satu pihak dinyatakan menang dan meraih kekuasaan secara de facto dan yuridis.

Sejalan dengan itu politik merupakan usaha untuk mewujudkan kebaikan dan kepentingan bersama dalam membangun suatu daerah,

Namun jika kebaikan dan kepentingan bersama itu lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan pasti akan muncul ketimpangan yang mengakibatkan terjadinya gesekan, sehingga kepentingan bersama membangun daerah menjadi terabaikan.

Sebagaimana dimaklumi politik erat kaitannya dengan penyelenggara pemerintahan yaitu eksekutif dan legislatif.

Bupati sebagai eksekutif dengan kewenangannya dapat mengeksekusi hasil legislasi yang telah diputuskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) yang bertugas sebagai legislatif, keduanya adalah penyelenggara pemerintahan.

Oleh sebab itu, dalam menjalankan roda pemerintahan antara eksekutif dan legislatif harus seiring sejalan, jika keduanya masing-masing saling menunggu dan menyalip ditikungan tentu tujuan membangun daerah tidak akan pernah tercapai sampai kapan pun.

Terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan, bupati dan DPRK dengan tugas dan kewenangan masing-masing adalah pemegang komando yang selalu siap memberi perintah, memberi peringatan, memberi motivasi, informasi dan perlindungan terhadap instansi teknis maupun nonteknis.

Hal senada juga dilakukan peternak atau pengembala kerbau dalam politik mubiyo koro saat mengusir pulang kerbaunya ke kandang atau mengantar kerbau ke kawasan peternakan.

Dinamai dengan istilah politik mubiyo koro, karena terdapat beberapa kejadian saat mubiyo koro berlangsung ditengah perjalanan, seperti adanya kerbau (koro) yang tidak dapat lagi berjalan karena terlalu capek (temungkelen).

Koro yang temungkelen tersebut biasanya disebabkan karena usia yang sudah terlalu tua, terlalu kecil, karena sakit atau medan yang dilalui terlalu beresiko.

Terhadap kondisi koro yang demikian, pemilik maupun pengembala akan mengistirahatkan seluruh kawanan koro pada suatu tempat yang tentunya sudah dipastikan aman dari hewan liar maupun pencuri dan bahaya lainnya.

Istirahat biasanya dilakukan paling kurang semalam atau lebih, dan setelah itu perjalanan akan dilanjutkan kembali dengan mempertimbangkan keadaan koro yang temungkelen yang dianggap sudah pulih.

Pertimbangan lainya adalah keadaan logistik yang tersedia, jika terlalu lama istirahat kemungkinan logistik tidak lagi mencukupi.

Resiko lain yang akan terjadi bila terlalu lama istirahat kawanan koro yang lain akan susah diamankan, karena prinsip koro kalau bukan wilayahnya dia tidak akan merasa nyaman apabila berlama-lama dikawasan itu.

Pabila keadaan koro yang temungkelen telah pulih dan sehat maka perjalanan akan diikutkan bersama kawanan koro yang lain.

Namun apabila tidak memungkinkan, kerbau temungkelen dapat berjalan atau masih belum pulih, akan ditinggalkan yang tentunya akan dijaga oleh satu orang, atau paling kurang dititipkan pada orang terdekat di kawasan itu.

Demikian juga perlakuan terhadap kerbau yang terdapat luka pada kaki (mugah). Sehingga mengakibatkan menganggu perjalanan karena sulit dan lambat berjalan. Koro mugah ini akan dituntun berjalan pelan-pelan (itonai) oleh orang khusus mengawal dari belakang dengan bermacam cara kerbau tetap berjalan kendatipun pelan.

Tidak tertutup kemungkinan juga dalam kawanan kerbau itu terdapat kerbau yang sangat lincah atau agresif (juah), kerbau demikian juga tidak luput dari pengawasan sang pemilik.

Terkadang kerbau juah ini sering tidak mengikuti jalan yang ada, tetapi selau berbelok kekanan atau kekiri sekehendak hatinya.

Bila kerbau ini keluar dari jalan menuju ke arah ke kanan, pemilik dengan sigap akan memberi instruksi melalui aba-aba berupa teriakan wi-wi, artinya balik ke kiri menuju jalan yang ditempuh, demikian juga bila jalan kerbau berbelok ke kiri akan diperintahkan kembali kekanan dengan aba-aba kuen-kuen.

Paling aneh dan penuh tanda tanya dalam kawanan kerbau ada yang suka menyendiri atau mengasingkan diri (koro muang). Terhadap kerbau muang ini, pemilik atau pengembala tidak boleh silap (gere nguk lale) sebab dia akan pergi mengasingkan diri atau keluar dari pasukan yang menyebabkan pemilik kalang kabut mencari.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button