EdukasiGAYOTakengon

Pria di Aceh Tengah ini Berhasil Buktikan Melon Bisa Ditanam di Dataran Tinggi

Penulis: Desi Mentari

BLANG MANCUNG, SUARAGAYO.Com – Siapa duga, Kampung Blang Mancung yang berada di Kecamatan Ketol, yang mayoritas masyarakatnya sebagai petani kopi dan tebu, justru punya cerita menarik.

Betapa tidak, di kampung tersebut ada pria bernama Mawardi (43), yang memiliki ladang yang memiliki tanaman berbeda dengan masyarakat sekitar.

Mawardi nekat menanam tanaman yang berbeda dengan warga sekitar, yang lebih memilih tebu, kopi, cabai dan tomat serta tanaman holtikultura lainnya. Melon adalah pilihan Mawardi. Tanaman yang diketahibbelum pernah ditanam di kawasan Ketol.

Bukan perkara mudah, karena Mawardi pernah gagal saat pertama kali menanam melon di kawasan tersebut.

“Ini ladang melon milik saya, modal nekad dan percaya diri ialah awal saya untuk menanam tanaman buah melon ini,” kata Mawardi, saat disambangi Suaragayo.com, 21 April 2021.

Tanaman ini jelas dia, merupakan tanaman yang hidup di dataran rendah dengan ketinggian 700 mdpl. Sedangkan umumnya Aceh Tengah berada di ketinggian 1020 mdpl. Namun ia tetap nekat menanam di daerah daratan tinggi tersebut.

Tahun lalu, Mawardi memang gagal dalam merintis usahanya karena curah hujan yang terlalu tinggi.

“Pada tahun 2020, secara online saya membeli bibit melon dari sebuah perusahan di luar Aceh. Dengan modal sendiri saya menanam tanaman buah melon ini, namun kegagalan atau kerugian yang saya dapat. Penyebabnya karena karena curah hujan terlalu tinggi,” ucapnya.

Kemudian pada Januari 2021, Mawardi kembali menanam tanaman melon dengan dibimbing langsung oleh perusahan tempat ia membeli bibit. Masalah dari kegagalan itu diperolehnya, ternyata melon tidak boleh ditanam saat curah hujan cukup tinggi.

“Saya coba lagi menanam buah melon, pengalaman dari kegagalan yang terjadi menjadi pelajaran bagi saya. Ternyata tanaman melon tidak cocok di tanam apabila musim penghujanan, April inii saya sudah panen buah melon dan berhasil,” ujar Mawardi.

Ia kini sudah menjual buah melon di pasar Simpang Balik dan Bireuen dengan harga bervariasi, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp12. 000. Namun ia tidak menjual hasil panen melon itu secara eceran.

Setelah berhasil pundi rupiah dari jerih payahnya, Mawardi rencanan akan memperluas areal lahan miliknya. Sebab saat ini ia hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan.

“Mungkin setelah keberhasilan ini, saya akan memperluas lahan saya untuk menanam tanaman buah melon ini dari 3 rante menjadi lebih luas lagi. Saya akan tetap menanam melon,” pungkasnya.

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button