BudayaGAYOTakengon

Sejarah HUT Kute Takengen, Sebuah Cerita Fiksi Yang Tak Berkualitas

Oleh : Win Wan Nur

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Sebentar lagi Kute Takengen akan memperingati “ulang tahun” nya yang ke 400 sekian. Kata ulang tahun di sini sengaja saya beri tanda petik karena sebenarnya hampir tidak ada orang yang percaya kalau usia Kute Takengen ini sudah setua itu.

Bahkan, saya yakin sekali tidak terlalu jauh dari permukaan lubuk hatinya yang tidak terlalu dalam, pihak-pihak yang terlibat dalam menetapkan tanggal lahir kota ini sendiripun tidak benar-benar yakin dengan apa yang sudah dia putuskan.

Sebenarnya kalau mau kita kuliti sampai tuntas, begitu banyak fakta meragukan soal penetapan usia kota terbesar di dataran tinggi Gayo ini, jauh lebih banyak dibanding fakta meyakinkan yang dasarnya bisa dipastikan hanyalah argumen-argumen dangkal yang sangat dipaksakan.

Bicara penetapan hari lahir kota ini, tak usahlah cerita tentang bukti sejarah primer berupa prasasti, atau bukti sekunder bahwa di satu manuskrip sekian ratus tahun yang lalu pernah ada orang bercerita tentang keberadaan kota ini. Yang paling sederhana saja, bahkan dalam kekeberen Gayo pun kita tidak pernah mendengar cerita tentang adanya sebuah kota bernama Kute Takengen.

Kekeberen alias folklore memang tidak bisa dijadikan dasar ilmiah untuk menentukan tanggal lahir sebuah kota, tapi folklore sangat bisa dijadikan bukti bahwa suatu ketika di masa lalu pernah ada sebuah peradaban di suatu daerah.

Folklore tercipta karena pada suatu masa di masa lalu pernah ada dinamika dalam masyarakat di suatu wilayah di daerah tertentu. Entah itu dinamika berupa musibah, kejayaan, percintaan atau terkait tata nilai yang ingin ditanamkan pada masyarakat pada masa itu.

Kalau kita perhatikan, meski kita tidak tahu kapan tahun pastinya sebuah kekeberen itu diciptakan, tapi dari generasi ke generasi kita biasa mendengar kekeberen yang diceritakan oleh awan dan anan kita, cerita yang juga mereka dengar dari awan dan anan mereka yang memuat kisah di suatu daerah tertentu.

Sebut saja misalnya cerita Atu Belah yang mengambil tempat di Penarun, kisah tentang Peteri Pukes yang katanya berasal dari Nosar. Cerita politik tentang sumpah yang membawa tanah dari kampungnya untuk mengklaim daerah itu sebagai tanah miliknya dalam kisah perebutan pengaruh politik Bebesen dan Kebayaken, kisah Merah Mege di Isak dan banyak lagi.

Semua cerita itu menunjukkan bahwa, di suatu waktu pada masa lalu, pernah ada manusia yang hidup dengan segala dinamika, kejayaan dan permasalahan sosial dan keluarga. Cerminan dari dinamika itulah yang dituangkan menjadi folklore.

Tapi untuk kampung-kampung yang baru berdiri, yang merupakan pecahan dari kampung-kampung lama tersebut, kisah-kisah kekeberen seperti ini tidak pernah kita dengar.

Takengen masuk dalam kategori ini, jangankan cerita bukti keras berupa prasasti atau catatan dalam manuskrip lama, bahkan dalam kekeberen Gayo pun nama kota ini tidak pernah kita dengar tersebutkan.

Lihat, meski bisa saja orang mengatakan, “Kekeberen ipecaya, betul jema gere sehat ya.” Tapi faktanya, bahkan dalam kekeberen pun cerita tentang Kute Takengen tidak pernah ada.

Selain kekeberen, sebenarnya ada cara yang lebih pasti dan kongkrit untuk membuktikan sebuah klaim sejarah tentang usia sebuah kota.

Cara paling valid untuk membuktikan itu tentu dengan menemukan bukti atas adanya artefak-artefak lama yang sudah berusia sekian ratus tahun, yang sudah pasti tidak akan pernah kita temukan di Takengen.

Kemudian, cara yang lebih simpel untuk membuktikan fakta sejarah itu bisa kita uji dengan cara mengetahui apakah di masa lalu kota yang katanya sudah begitu tua benar-benar ada penduduk aslinya.

Kongkritnya kalau kita ingin membuktikan bahwa usia Kute Takengen yang sudah sekian ratus tahun ini adalah omong kosong. Kita bisa melandaskannya pada fakta yang tak terbantahkan bahwa kalau di suatu daerah ada sebuah pemukiman lama, maka di sana akan ada penduduk aslinya. Orang-orang yang terikat secara emosional dengan daerah itu, merasa daerah itu merupakan bagian tak terpisahkan dari identitasnya.

Saya misalnya, meski sudah lahir di Takengen, tapi keluarga saya berasal dari Isak. Secara identitas personal saya terikat dengan Isak. Saya dan orang-orang di Isak bisa menceritakan kisah keberadaan keluarga saya di kampung itu sampai sekian generasi ke atas.

Bukan hanya saya, tapi orang-orang Isak yang lainpun terikat dalam satu emosi yang sama dengan kampung asal kami ini. Ada benang merah sejarah, kisah, dinamika dan tata nilai yang dulu pernah dianut orang di kampung itu yang menyatukan kami, meski kami sudah tidak lahir di sana.

Contohnya, suatu kali saya bertemu dengan pawang gajah di Pintu Rime Gayo bernama Gundala yang mengaku berasal dari Isak juga. Saya tanya, di mananya di Isak dia tidak tahu karena sudah tidak lahir di sana dan seumur hidup tidak pernah benar-benar tinggal di Isak.

“Nanti saya tanya ibu saya,” katanya.

Beberapa hari kemudian ibunya menelpon saya, menanyakan saya anak siapa, siapa kakek saya. Lalu ketika semua sudah saya ceritakan, ibunya itu berkata “Keta ko si Bali so ke?”

Dari cerita ini terlihat jelas, ada rekam jejak masa lalu hubungan kekerabatan yang bertahan sampai sekarang, meski kami yang berakar dari Isak sudah bertebaran ke segala penjuru planet ini.

Orang-orang di Toa, di Saril, Temung Penanti, Pendere sampai ke Pegasing sana juga sama kalau kita bahas asal-usulnya, mereka akan bisa merujuk pada peradaban di Bebesen. Begitu juga dengan orang di Kampung Teritit, Tingkem, Nosar di Bener Meriah, Waq Ponok Sayur, mereka bisa merujuk pada kampung asalnya, kampung-kampung tua di seputaran Danau Lut Tawar.

Nah, kalau Takengen katanya sudah setua itu. Kita tentu bertanya, mana penduduk aslinya yang sejak nenek moyangnya sudah bermukim di kota ini? Mana orang yang mengatakan Takengen, kota terbesar di dataran tinggi Gayo ini adalah tempat lahir nenek moyangnya? Kok kita tidak menemukan satupun dari mereka? Kok kita tidak menemukan ada orang yang memiliki jejak masa lalu hubungan kekerabatan terkait kota ini?

Coba tanya orang Belang Kolak I, Kampung Baru dan Simpang Wariji yang sudah menetap di sana sejak kita bisa mengingat. Tanya, mana kampungnya, dia akan merujuk ke Isak, BelangGele, Toweren, Asir-asir, Samalanga dan seterusnya. Tidak seorangpun yang bisa kita temukan yang mengatakan bahwa Takengen ini adalah kampung aslinya.

Yang merasa terikat secara emosional dan merasa Takengen ini adalah bagian dari identitasnya yang melekat dengan kepribadiannya, takkan lebih dari generasi yang lahir pada tahun 1960-an ke atas. Tidak ada yang lebih jauh dari itu.

Dulu kita bisa mudah dibohongi dengan cerita semacam asal nama kota yang sebutan bahasa Indonesianya terjadi akibat kesalahan baca huruf Belanda O umlaut (Ö) yang seharusnya dibaca “E” seperti bunyi “e”dalam kata “seperti” secara salah kaprah dibaca menjadi “O” ini berasal dari kata “Senta Kuengon.”

Meski tak ada seorang yang bisa menjelaskan, siapa yang melihat dan apa yang dia lihat di wilayah kering dengan belang tandus yang luasnya tanggung serta tak memiliki sumber air selain Danau Lut Tawar dan Wih Kul yang menjadi saluran keluar airnya. Sementara kita tahu kebiasaan masyarakat Gayo yang hidup di pinggir danau, tak ada seorangpun yang menggunakan air danau dan air Wih Kul ini sebagai air keperluan hajat hidup sehari-hari, minum dan memasak, air danau dan Wih Kul ini kalaupun dipakai hanya untuk mencuci.

Dalam cerita yang lebih liar, ada juga yang nekat mengatakan kata Takengon yang berasal dari penyebutan yang salah kaprah ini berasal dari kata “Tekongan,” merujuk pada banyaknya tikungan yang harus dilewati dari pesisir menuju kota ini.Lebih nekat lagi, ada yang menyebut asal nama kota ini adalah bahasa Aceh “Taki Ngon” yang artinya menipu kawan, atau “Tak Ngon” yang artinya membacok kawan.

Satu yang menjadi benang merah dari semua argumen tersebut adalah basis logika yang digunakan mengandalkan metode cocokologi yang merefleksikan miskinya imajinasi dan dan dangkalnya logika akademis yang bertumpu pada data-data empiris.

Sekarang dengan tak terbatasnya akses ke sumber informasi, bahkan yang paling sederhana melalui media sosial paling populer di Gayo, facebook, kita bisa mengakses informasi berisi foto-foto wilayah Takengen di masa lalu.

Sebut saja misalnya melalui akun facebook Aman Dio atau Joe Renggali Seulanga. Dalam foto-foto yang didapat dari museum Belanda yang mereka posting, kita bisa melihat dengan nyata, kalau dulu ketika Belanda pertama kali tiba di tempat ini, tak ada yang namanya sebuah kota. Di wilayah yang sekarang disebut Takengen ini, nyaris tidak ada apa-apa.

Tapi kalau buktinya sudah sedemikian nyata, kenapa dulu banyak orang percaya dengan cerita karangan bebas seperti itu?

Sebab dulu, informasi masih dikuasai dan didominasi pihak-pihak tertentu. Cerita-cerita yang nuansa mengarang bebasnya ini begitu vulgar dan tak peduli pada pentingnya jalinan alur logika ini masih bisa dipercaya orang, karena yang menceritakan adalah orang-orang yang kita hormati, entah itu orangtua, guru atau tokoh masyarakat.

Di zaman itu sistem pendidikan kita belum memperkenalkan pada siswa tentang apa yang disebut sebagai « logical fallacies » yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai sesat pikir. Jadi kita belum familiar dengan sesat pikir yang dikategorikan sebagai « argumentum ab auctoritate » alias « Appeal to false authority » yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai argumen yang berbasis pada otoritas palsu. Sebuah cerita, meskipun konyol, dianggap benar hanya karena cerita itu diceritakan oleh seorang tokoh yang dihormati.

Padahal jangankan cerita sejarah yang memerlukan bukti-bukti keras untuk diakui keberadaannya. Bahkan yang namanya cerita fiksi dan dongengpun, untuk bisa laku dibaca, didengar atau ditonton orang, dikarang dengan memperhatikan alur logika yang ketat.

Ambil contoh kisah Superman, Clark Kent tidak ujug-ujug punya kekuatan super seperti itu. Pengarangnya membuat alur logika dengan menggambarkan Clark Kent yang punya nama asli Kal-El ini berasal dari Planet Krypton yang tanahnya memiliki radiasi yang sangat kuat. Sesampainya di bumi, karena tidak adanya radiasi seperti itu, Clark Kent jadi terlihat memiliki kekuatan super. Spiderman akibat digigit laba-laba.

Harry Potter, bagaimana dia bisa bertahan dari sihir Voldemort. Hunger Games, bagaimana Katnis Everdeen sang Mockingjay bisa punya kemampuan memanah yang hebat. Tak ada yang digambarkan muncul secara ujug-ujug, semua punya alur logika yang dibangun dengan rapi.

Untuk kisah lokal, coba baca Wiro Sableng atau Si Buta Dari Gua Hantu, keduanya juga tidak mendapatkan kekuatan secara ujug-ujug, ada alur logika yang dibangun dengan rapi oleh pengarangnya.

Untuk kekeberen Gayo juga demikian, Atu Belah, kenapa ibunya mengorbankan diri dimakan batu. Itu karena dia sedih dimarahi akibat belalang dalam keben lepas. Atau bagaimana Gurugaji yang memburu Peteri Bensu mati dibakar tukang perahu. Itu karena dia kedinginan habis menyelam dalam usahanya menangkap bayangan Peteri Bensu di dalam air.

Jadi apa yang bisa kita simpulkan dari cerita ini. Cerita usia Kute Takengen yang sudah berusia lebih dari 400 tahun yang tanggal berdirinya diperngati sekarang ini, jangankan untuk diakui sebagai sebuah kisah sejarah, bahkan untuk dikategorikan sebagai dongeng alias cerita fiksi pun, ini adalah cerita fiksi yang buruk sekali.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button