EkonomiGAYOTakengon

[Seribu Kisah di Atu Lintang] Cerita Maskur, Dirikan Koperasi Simpan Pinjam, Kelontong hingga Jual Beli Kopi

Maskur juga bercerita tentang tantangan membangun koperasi

Penulis : Nihayatul Afifah Husna

TAKENGON, SUARAGAYO.COM – Koperasi merupakan sebuah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan oleh anggotanya demi kepentingan bersama.

Maskur (34) salah seorang masyarakat di Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh tengah, sudah mendirikan koperasi sejak tahun 2014 silam.

Pihaknya ingin membukikan koperasi didirikan untuk kepentingan setiap anggotanya.

Koperasi tersebut bernama KSU Koperasi Masyarakat Padat Karya (KOMPAK).

Kantor KSU KOMPAK. (Foto: Nihayatul Afifah Husna)

Tujuan utama didirikannya koperasi ini yaitu untuk mensejahterakan perekonomian masyarakat, serta bertukar informasi, membagi ilmu pengetahuan, dan meningkatkan hasil mutu.

“Untuk meningkatan ekonomi masyarakat dengan bergabung disini, bisa bertukar informasi, bisa sharing ilmu pengetahuan, bisa meningkatkan hasil mutunya,” kata Maskur.

Mulanya koperasi yang didirikan oleh Maskur hanya sebatas menawarkan jasa simpan pinjam, serta jual beli kelontong. Namun, ditahun 2020, Koperasi ini mencoba usaha baru, yakni memfokuskan kepada tanaman kopi.

Bukan tanpa alasan Maskur memfokuskan koperasi tersebut bergerak di bidang kopi Arabika Gayo.

Pasalnya potensi kopi yang dimiliki oleh Atu Lintang sangat dikenal oleh banyak orang namun, sampai saat ini masyarakat sendiri belum sepenuhnya menerima manfaat dari kopi tersebut.

Ketua KSU Koperasi Masyarakat Padat Karya (KOMPAK), Maskur.

Disamping itu, koperasi ini akan memberikan edukasi tentang perawatan kebun kopi yang benar sehingga bisa hasil maksimal di setiap hektarnya.

“Untuk tahun ini kita fokus di kopi, karena kita lihat potensinya. Atu Lintang itukan dikenal dengan kopinya, tapi sampai hari ni masyarakatnya itu belum full untuk menerima manfaat dari kopinya itu,”

“Nama kopi Atu Lintang mendunia, tapi tidak berbanding lurus dengan kenyataannya yang ada di Atu Lintang. Selain itu kami juga memberikan edukasi perawatan kebun yang benar sehingga bisa memberikan hasil yang maksimal disetiap hektarnya,” ucap Maskur.

Dalam membangun sebuah komunitas, tentu ada saja kendala yang dihadapi. Begitu juga yang dialami oleh Maskur sebagai pemimpin koperasi. Kendala terbesar yang dialaminya adalah dalam meningkatkan kesadaran para anggota tentang mekanisme berkoperasi.

“Menumbuh kembangkan tingkat kesadaran anggotanya yang paling berat. Artinya untuk berkoperasi itu bagaimana, itu yang paling sulit sebenarnya, karena itu nanti akan mempengaruhi kekinerjanya koperasi kedepan,” jelas Maskur.

Maskur berharap agar masyarakat sadar serta ikut berpartisipasi dalam koperasi, selain itu dirinya berharap koperasi yang didirikan itu bisa membantu masyarakat untuk menuju ekonominya yang mandiri.

Saat ini KSU KOMPAK tengah mencoba menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan, dengan harapan supaya ada ikatan kontrak kerja jual beli kopi.

 

Editor: Iwan Bahagia

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button