GAYOSosialTakengon

[Seribu Kisah di Atu Lintang] “Permata Atu Lintang itu Bernama Sobirin, Tuna Daksa yang Punya Raihan Prestasi”

Reje kampung menerima Sobirin sebagai Kaur Pemerintahan

Penulis : Nihayatul Afifah Husna

TAKENGON,SUARAGAYO.Com – Keterbatasan fisik, mental, intelektual atau yang sering kita sebut dengan disabilitas, bukanlah suatu penghalang untuk meraih prestasi yang gemilang.

Banyak anak di luar sana, yang menyandang disabilitas namun, mereka tetap berkarya, berjuang, serta berlomba untuk menunjukkan bakat mereka.

Begitu juga yang dilakukan oleh Ahmad Sobirin, salah satu masyarakat Kampung Merah Mege, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah.

Sobirin, adalah pria Tuna Daksa, yang memiliki anggota tubuh yang tidak sempurna.

Dengan segala keterbatasannya, anak dari pasangan Almarhum Tugiman dan Muflihah ini terus menampilkan karya yang memukau.

Sebab sejak tahun 2011, Sobirin sudah mulai mengikuti lomba Kaligrafi tingkat Kecamatan dan memperoleh juara 2. Raihan itu merupakan awal yang sangat bagus.

Setahun berikutnya, Sobirin kembali mengikuti lomba yang sama, dengan tingkat yang sama pula. Sobirin saat itu berhasil menyabet juara 1.

Merasa tertantang untuk mencoba hal baru, Sobirin diberikan kepercayaan oleh pihak kecamatan di daerahnya untuk mengikuti Musabaqah Makalah Qur’an (MMQ) tingkat kabupaten di Kecamatan Celala. Sobirin lagi-lagi mendapat juara 2.

Pada tahun 2015, Sobirin mewakili sekolahnya Madrasah Aliyah Al-huda Jagong. Sobirin kala itu mengikuti lomba menulis tentang kebencanaan, lagi-lagi anak muda ini mendapatkan Juara 1 tingkat Kecamatan Jagong.

Kemudian pada tahun 2016, Sobirin yang dikenal pantang menyerah kembali mengikuti MMQ tingkat kabupaten di Kecamatan Ketol, lagi-lagi Sibirin meraih hasil membanggakan, karena berada di puncak, alias juara 1.

Kegigihan Sobirin pula yang membuatnya meraih Juara 1 Lomba Kaligrafi pada tahun 2018. Sobirin tidak lagi di level kabupaten, karena kegiatan itu digelar oleh Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah piala yang diperoleh Ahmad Sobirin, sejak mengikuti beberapa lomba tingkat Kecamatan, Kabupaten hingga Nasional.

Sosok Sobirin yang humble, serta memiliki beragam prestasi sangat mampu untuk menginspirasi teman-temannya yang lain.

Selain itu, anak dari pasangan almarhum Tugiman dan Muflihah ini juga pernah di undang oleh TVRI, yang tertarik membahas mengenai perjalanan hidup dan perjuangan Sobirin yang dianggap luar biasa.

Keterbatasan bukanlah menjadi penghalang Sobirin untuk terus berkarya. Sebab, prestasi, berkarya menurut pria ini tidaklah memandang keterbatasan, namun memandang keinginan, kesungguhan serta kemauan untuk belajar dan bekerja keras.

Keteguhan hidup Sobirin yang sangat luarbiasa mampu menggetarkan hati setiap manusia yang non-difabel.

Bagaimana tidak, seorang pemuda yang memiliki prinsip ingin melampaui batas keterbatasan yang dialami ini ingin membuktikan capaian, atau bahkan melampaui pemuda lain yang normal secara fisik.

“Saya memiliki prinsip hidup, yaitu saya ingin melampaui batas walaupun saya diatas keterbatasan. Misalnya dengan saya berprestasi saya ingin membuat mereka yang non-disabilitas (normal) saat ini, itu untuk membuat mereka terpacu semangatnya,” kata Ahmad Sobirin, mengawali perbincangan dengan Suaragayo.com, Minggu (9/8/2020).

Bagi pria yang kehilangan ayah pada tahun 2016 itu, siapapun bisa berkarya, siapapun bisa berprestasi.

Sebab, bagi Sobirin yang lahir 22 tahun silam ini, prestasi tidak mengenal siapapun, selagi seseorang tetap berusaha mewujudkan serta bisa berkarya, maka prestasi akan menghampiri orang tersebut.

“Prestasi tadi tidak melihat dari keterbatasan dari dia kekurangan, tidak. Contoh Nick Vujicic adalah penyadang disabilitas, dia tidak punya tangan, tidak punya kaki, tapi dia bisa bermain bola, bisa berenang, bisa menjadi motivator, itulah seperti yang saya bilang, berkarya, prestasi tidak mengenal batasan,” ucap Sobirin.

Sobirin juga ingin menyampaikan pesan kepada setiap orang untuk selalu rendah hari dengan selalu melihat ke atas untuk bersyukur dan melihat ke bawah untuk tidak mengeluh.

“Harapan saya untuk kawan-kawan kedepannya, jangan lupa bersyukur karena dibawah kita masih banyak orang-orang yang memiliki kekuragan, memiliki banyak keterbatasan dan sebagainya,”

“Maka dari itu jangan sampai kita lupa akan nikmat yang telah Allah berikan, lihatlah ketas untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah dan lihatlah kebawah banyak orang yang lebh membutuhkan,” lanjut Sobirin.

Saat ini sobirin bekerja sebagai aparatur kampung bagian kepala urusan kepemerintahan dan kesejahteraan. Reje aau kepala desa serta perangkat kampung menerima Sobirin meski memiliki keterbatasan secara fisik.

Selain Ahmad Sobirin, masih banyak para difabel yang tidak berhenti untuk terus berjuang, berkarya, bahkan berprestasi.

Sobirin adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Raihan Sobirin, serta kesungguhannya patut menjadi suri teladan bagi anak muda saat ini.

Perangkat desa yang menerima Sobirin bekerja juga menjadi contoh bagi desa lainnya. Dengan memandang sama setiap mereka yang berkebutuhan khusus.

Semoga Sobirin lain terus bermunculan di negeri ini. Punya keterbatasan fisik, namun punya obsesi masa depan yang dibuktikan dengan prestasi yang selama ini terlihat bagai dongeng semata.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button