GAYOTakengon

Setelah Viral, Bocah yang Tidur di Marka Jalan di Wariji akan Masuk Panti Khusus Rehabilitasi Anak

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.com – Setelah viral diberitakan, termasuk berita Suaragayo.com berjudul Ayah Ditahan karena Narkoba, Ibu Kubur Bayi Hidup-Hidup, Bocah Ini Tidur di Lampu Merah Wariji, pada 7 Oktober lalu, Dinas Sosial Aceh Tengah bersama berbagai pihak rupanya membahas serius persoalan tersebut.

Sebab pada Jumat 8 Oktober lalu, Dinas Sosial Aceh Tengah bersama sejumlah institusi dan lembaga mengadakan Rapat Case Conference atas kasus anak berinisial HR (13), penduduk Kampung Tebuk dan Kampung Simpang Kelaping Kecamatan Pegasing.

Pembahasan itu dilakukan setelah informasi yang viral di media sosial dan media daring baik lokal bahkan nasional, tentang kisah HR, bocah yang tidur di marka jalan nasional, yaitu di perempatan traffic light Simpang Wariji, Takengon, dengan kondisi tertidur diatas bungkusan kardus bekas dengan kondisi demam.

“Jadi HR ini anak ke-2 dari pasangan suami istri yang masuk kategori keluarga “broken home”, karena sang Ayah masih menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan di Kabupaten Aceh Tenggara, dan Ibu si anak ini sedang dalam proses pidana karena dugaan tindak kriminal,” kata Aulia Putra, Kepala Dinas Sosial Aceh Tengah, dikonfirmasi Minggu (11/10/2020).

Selama ini lanjut Aulia, HR besar dan berkembang seorang diri dalam lingkungan yang liar dan tidak terkontrol. Sebab hampir setiap hari HR berkeliling kota Takengon dan tidur disembarang tempat, bahkan pernah terlibat dengan zat-zat terlarang.

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan pada hari itu ungkap Aulia, diketahui HR saat ini dalam proses threatment di ruang jiwa RSU Datu Beru, karena anak mengalami guncangan jiwa, apalagi pernah menggunakan zat berbahaya.

Setelah pulih fisik dan jiwanya lanjut Aulia, beberapa hari kedepan bersama pihak keluarga difasilitasi pemerintah sepakat membawa anak tersebut ke Panti Pembinaan Khusus Anak milik Pemerintah Aceh di Banda Aceh.

“Pasca pembinaan nanti, diharapkan anak HR menjadi Pribadi yang baik, terdidik, dan tangguh dalam menghadapi tantangan hidup kedepan yang lebih baik lagi dan keluarga inti maupun keluarga pendamping dapat menjadi tempat Hendri menguatkan kapasitas dan pribadinya kelak,” sebut Aulia.

Selain itu ungkapnya, para pihak perlu menghilangkan memori sejarah masa lampaunya yang kelam atau historical context, dengan suasana baru yang lebih segar dan nyaman serta pemahaman keluarga terhadap perubahan perilaku anak yang telah baik dan pulih kembali.

Dengan demikian, upaya ini akan memberikan pemahaman dan harapan kepada keluarga inti baik pihak keluarga, untuk selalu mendukung HR menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Semoga hal ini menjadi harapan ananda Hendri Ramadhan, orang tua, keluarga dan pemerintah serta kita semua,” pungkas Aulia.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button