Bener MeriahGAYOHukum

Pelaku Pemerkosaan di Bener Meriah Ternyata Mengulang Perbuatannya dengan Korban Baru Setelah Penahanan Ditangguhkan

Penulis: Iwan Bahagia

BENER MERIAH, SUARAGAYO.com – Pasca pemberitaan beberapa media online tentang kasus perkosaan terhadap seorang korban dan dua orang pelaku, sebuah perkumpulan Umah Sunting Pirak langsung mengunjungi korban, Jumat (11/9/2020).

Melalui siaran persnya, Sunting Pirak yang dipimpin oleh Reilawati mengungkap hasil pertemuan dengan keluarga korban perkosaan.

“Korban tidak mendapatkan pendampingan psikologis dan ibu korban dalam kondisi stroke dan traumatis akibat kejadian ini,” jelas Reilawati, Jumat (11/9/2020).

Dalam hal ini jelas Reiwati, perkumpulan Sunting Pirak ingin memastikan bahwa hak-hak korban dan keluarganya telah terpenuhi

Setelah melakukan pertemuan tatap muka selama dua jam,15.00 Umah Suting Pirak menyampaikan beberapa kesimpulan.

“Pertama, bahwa sejak awal korban diperiksa sudah didampingi oleh petugas P2TP2A, yang tidak di dampingi pada sidang agenda saksi,” ujar Reilawati.

Terkait psikologis, keluarga nenjelaskan bahwa korban yang berusia 16 tahun masih mengalami guncangan jiwa.

“Pada saat bertemu dengan relawan Umah Sunting Pirak, korban secara langsung mengatakan malu sambil mengeluarkan air mata. Karena teman-temannya semua sudah tahu sehingga korban takut keluar rumah. Saat ini korban belum sanggup untuk ikut dalam proses kegiatan belajar mengajar,” sebut Reilawati.

Ketiga, Selain korban, ibu korban yang sedang dalam kondisi stroke juga bertambah menderita, karena ikut juga tertekan akibat kasus itu.

“Apabila ada tamu ibu korban akan panik dan meminta pintu rumah untuk segera ditutup. Saat ini kondisi ibu korban lumpuh total dan sangat sulit untuk bergerak dan mengurus kebutuhannya sehari hari,” tulis Reilawati dalam rilis itu.

Selain itu lanjut Reilawati, Umah Sunting Pirak melihat ada ketidaknyamanan keluarga korban, sebab korban mengatakan bahwa salah seorang pelaku yang juga berusia 16 Tahun dalam masa penangguhan tahanan, justru melakukan hal yang sama lagi, terlibat dengan kasus pemerkosaan lebih dari satu (Gang Rape) pada bulan Agustus 2020.

“Sehingga hal ini menambah teror bagi keluarga korban. Pihak korban merasa sangat kecewa dengan penegakan hukum,” ungkap Reilawati.

Berdasarkan temuan-temuan dimaksud, perkumpulan Umah Sunting Pirak mengeluarkan beberapa rekomendasi kepada pihak terkait, diantaranta kepada Pemerintah Bener Meriah, agar tetap komitmen dalam pendampingan korban, khususnya perempuan dan anak dan Umah Sunting Pirak siap bersinergi bersama pemerintah Kabupaten Bener Meriah.

Dalam proses penegakan hukum, Sunting Pirak mengingatkan kepada Aparat Penegak Hukum untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan tentang upaya hukum (penangguhan penahanan), atau bentuk apapun yang menempatkan pelaku bisa berkeliaran dan mengulangi tindak pidana yang sama, sehingga sangat merugikan korban dan juga menimbulkan potensi korban baru.

“Dalam hal ini Sunting Pirak merasa sangat prihatin karena pengawasan yang lemah. Sementara secara statistik kita mengetahui bahwa Bener meriah merupakan wilayah dengan angka kekerasan seksual yang memprihatinkan,” ungkap Reilawati.

Penanganan psikologi bagi korban tambah Reilawati, semestinya sudah diberikan sejak awal kasus tersebut ditangani. Sehingga korban dan keluarga korban mendapatkan layanan psikologi sehingga korban dan keluarganya merasa nyaman.

“Peran P2TP2A dalam hal ini sangat diharapakan untuk dapat meningkatkan koordinasi dalam penanganan kasus dan memastikan pendampingan efektif dan hak hak korban dapat terpenuhi,”

“Dibutuhkan sosialisasi oleh pemerintah dan institusi hukum yang cukup kepada masyarakat tentang ppeneapan hukum dalam payung hukum qanun Jinayah bagi pelaku pemerkosaan yang merupakan kebijakan khusus di provinsi Aceh. Korban sering merasa tidak cukup terlindungi dari pelaku pemerkosaan apabila pelaku mendapat hukuman cambuk,” ungkap Reilawati.

Selama ini tulis Reilawati lagi, hal yang disebutkan telah menjadi momok bagi masyarakat dan khususnya korban.

Bagi pelaku anak ungkap Reilawati lagi, diperlukan upaya yang sangat serius dari aparat penegak hukum dan institusi hukum untuk memastikan bahwa dalam lembaga pemasyarakatan, setiap anak yang berhadapan dengan hukum dapat direhabilitasi dan dipastikan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Korban Tidak Dapat Pendampingan

Seperti diberitakan Suaragayo.com, Kamis (10/9/2020), NS orangtua korban perkosaan merasa sedih, karena anaknya tidak mendapatkan pendampingan hukum dan psikologis sejak kasus pemerkosaan yang terjadi pada 31 Juni 2020.

Kini kasus tersebut telah memasuki masa persidangan di Mahkamah Syar’iah Simpang Tiga Redelong.

Pelaku merupakan tiga orang anak di bawah umur. Anak NS diperkosa oleh dua orang, sementara saat kejadian, seorang lagi menjaga teman putrinya supaya tidak melapor ke pihak manapun.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button