AcehGAYOSejarah

Ternyata ada Orang Gayo yang Latih Pasukan Tuan Rondaihaim di Simalungung saat Melawan Belanda

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Setelah berhasil menggelar berbagai diskusi secara daring dengan berbagai tajuk, Pusat Kajian Kebudayaan Gayo (PKKG) kembali menggelar kegiatan perbincangan secara daring, Senin (1/8/2022) malam.

 

Perbincangan ke-25 ini, akan kembali membahas sejarah, dengan narasumber yang berbeda.

Sebelumnya, secara berseri PKKG menggelar kegiatan serupa, mulai dari mengangkat isu budaya, seni, sejarah, kopi, bahasa, kuliner, keanekaragaman hayati, alat musik tradisional, busana, sampai sastra lisan Gayo.

“Fokus perbincangan pada era kolonial Belanda, bagaimana peran orang Gayo menghadapi kolonialisme di Sumatera,” kata Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo (PKKG), Yusradi Usman al-Gayoni, kepada Suaragayo.com, Senin (1/8/2022).

Perbincangan itu juga akan mengulas sebuab isu di Simalangun, Sumatera Utara. Sebab diketahui, Tuan Rondaihaim Saragih Garingging, yang merupakan satu dari tujuh raja Simalungun yang dikenal gigih melawan penjajahan Belanda di era 1828-1891, adalah satu-satunya Raja Simalungun yang tak dapat dapat ditaklukkan oleh Belanda.

 

Ternyata, para pejuang yang ikut bersama Tuan Rondahaim dari Kabupaten Simalungun, meminta sekitar 20 pejuang dari tanah Gayo, untuk melatih tentara pejuang Simalungun dalam menghadang Belanda, agar tidak masuk ke jantung Kota Simalungun.

 

“Akhirnya, Belanda tidak berhasil menduduki Simalungun, kecuali setelah Tuan Rondahaim menghembuskan nafas terakhir,” sebut Yusradi, yang juga mantan Konsultan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Pengelolaan dan Pelestarian Warisan Budaya Dataran Tinggi Gayo-Alas (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Bener Meriah) Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI tahun 2019 itu.

“Jadi, orang Gayo pada umumnya, terlebih generasi muda, tahu peran awan, datu, dan empu mereka di masa lalu. Tidak sebatas di tanoh tembuni, Gayo dan Aceh, tetapi juga di luar Aceh. Yang lebih penting lagi, bagaimana semangat, nilai, budaya, dan karakter berjuang, pejuang, behu, hebat, dan kul, lebih-lebih i deret ni uwer diri bisa terus berlanjut ke generasi Gayo saat ini dan generasi Gayo pada masa-masa mendatang,” tegas Yusradi.

 

Bincang “Peran Orang Gayo Menghadapi Kolonialisme di Sumatera,” jelas pendiri/pengelola Perpustakaan Gayo tersebut, akan menghadirikan Johan Wahyudi, dosen Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai narasumber. Johan Wahyudi sempat melakukan penelitian berjudul “Peradaban Islam Awal di Aceh Tengah; Studi Atas Kerajaan Linge Abad XI-XIV”.

 

Johan juga menulis buku Sejiran Tak Sejalan: Diplomasi Kesultanan Aceh dengan Johor Abad XVI-XVII (Mahara Publishing, 2016), dan editor buku “Sejarah Aceh” di Yayasan Tun Sri Lanang, Jakarta (2011-2012) dan “Sejarah Awal Islam di Gayo Abad XI-XIV” yang ditulis sejarawan Prof. Dr. M. Dien Madjid (Mahara Publishing, 2020).

Bincang “Peran Orang Gayo Menghadapi Kolonialisme di Sumatera” Pusat Kajian Kebudayaan Gayo akan digelar pada hari Senin malam (1/8/2022), mulai pukul 19:30 WIB, bisa diikuti melalui tautan Zoom Meeting melalui tautan berikut: https://us02web.zoom.us/j/82623535672?pwd=TWVVVjhETjZ5dkwwRGpQb0VOM0VkUT09, Meeting ID: 826 2353 5672, dengan Passcode: 841994

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button