EdukasiGAYOTakengon

Terpilih Sebagai Ketua PII Aceh Tengah, Juandi Dukung Sekolah Kembali Dibuka

Penulis: Iwan Bahagia

TAKENGON, SUARAGAYO.Com – Kendala siswa belajar daring ditengah pandemi Covid-19 masih saja terjadi. Mulai dari keluhan wali murid soal harga paket hingga tidak memiliki gawai serta jaringan seluler dibeberapa daerah acap kali masih terdengar.

Ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Aceh Tengah terpilih, Juandi, sejumlah alasan itu dianggap perlu menjadi perhatian pemerintah.

“Para wali murid banyak yang mengeluh, karena biaya paket dan sebagian tidak memiliki HP android, dan tidak semua desa di 14 kecamatan memiliki jaringan internet yang memadai, sehingga proses daring tidak bisa dilakukan dan banyak anak yang tidak pernah tahu lagi bagaimana pendidikan itu malah sekolah terpencil nyaris tidak pernah mendapatkan sentuhan guru,” kata Juandi, kepada Suaragayo.com, Rabu (4/11/2020).

Menurutnya, proses pembelajaran pedagogik, afektif dan psikomotorik tidak bisa berjalan jikalau daring atau luring. Hal tersebu lanjut Juandi, tentu ini tidak efektif dalam pembelajaran.

“Dan ini sangat tidak adil, sedangkan di beberapa tempat wisata, cafe, dan acara pestapun tetap berjalan, memang dari sebagian ada yg memenuhi protokol kesehatan, tapi kenapa tidak di sekolah, apakah di sekolah ada corona, ini peraturan yang bingung di kalangan masyarakat, kami berharap kepada pemerintah daerah sekolah segera di buka sekolah lagi, baik dari SD, SMP Dan SMA/K sederajat, tapi dengan syarat tetap mematuhi protokol kesehatan,” lanjut Juandi.

Ia berharap kepada Pemkab Aceh Tengah dapat segera melakukan sekolah tatap muka seperti yang sudah diwacanakan, mengingat beberapa pertimbangan selama kebijakan belajar daring atau luring ditengah Covid-19.

Pihaknya mencatat ada beberapa kendala besa selama belar daring, pertama hanya 30 persen para siswa yg mengerjakan tugas tepat waktu.

Kedua waktu bermain dan berkumpul berasama teman lebih banyak di banding belajar.

Selanjutnya kendala paket internet dan jaringan di beberapa kampung.

Ia menganggap ada pula wali murid yang masih banyak mengeluh apabila anak belajar di rumah, karena orangtua tidak sepenuhnya memahami materi yang diberikan guru.

Sebagian siswa jelas Juandi, banyak duduk di warung menghabiskan waktu bermain game.

Bahkan ada pula saat belajar daring dan luring, wali murid yang megerjakan tugas.

“Selama belajar di rumah, para siswa tidak mendapatkan pembelajaran seperti di sekolah, mengingat banyak orangtua mencari nafkah di luar, sehingga tidak dapat mengontrol penuh anak yang sedang berada di rumah,” tambah Juandi.

Seperti diketahui, Satgas Covid-19 Aceh Tengah dalam waktu dekat akan kembali membuka sekolah tatap muka di daerah itu karena berbagai pertimbangan. Salah satu alasan, karena kasus positif Covid-19 di Aceh Tengah dalam sebulan terakhir sudah mulain menurun.

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button