AcehGAYOHukumTakengon

WALHI Aceh: Limbah Terpentin PT Jaya Media Internusa Berpotensi Timbulkan Bencana Ekologi di 3 Kabupaten

Penulis: Iwan bahagia

BANDA ACEH, SUARAGAYO.Com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh mendapatkan laporan dari masyarakat terkait persoalan limbah pabrik minyak terpentin PT Jaya Media Internusa (JMI) di Kampung Kute Baru, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Menurut Direktur WALHI Aceh, Muhammad Nur, selama masa uji coba operasi produksi, ternyata IPAL perusahaan masih bermasalah dan belum mampu melakukan pengelolaan limbah dengan benar. Sehingga masyarakat sekitar mempersoalkan limbah hasil pengolahan getah pinus tersebut karena berdampak terhadap penurunan kualitas air dan udara dipemukiman penduduk.

“WALHI Aceh ingatkan PT JMI agar tidak melanjutkan operasi produksi sebelum mampu melakukan pengelolaan lingkungan sesuai Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPLH),” kata Muhammad Nur, seperti rilis yang diterima Suaragayo.com, Selasa (27/10/2020).

Dijelaskan, Bupati Aceh Tengah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, selaku institusi pengawas dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup operasi produksi PT JMI, harus berani mengambil sikap tegas dengan tidak mengizinkan kegiatan operasi produksi sebelum persoalan limbah selesai.

“Jika perlu izin lingkungan dan izin operasi produksi dibekukan sampai batas waktu tertentu,” ujar Muhammad Nur.

Selain itu, pihaknya mendesak DLHK Aceh melakukan audit lingkungan terhadap dampak pencemaran limbah dalam masa uji coba operasi produksi. Sebab WALHI menduga ada kerugian lingkungan dari dampak tersebut, baik terhadap kualitas air permukaan, air tanah, serta terganggu biota air di Krueng Jambo Aye.

“Karena berdasarkan rona awal kualitas udara dan kualitas air disekitar lokasi menunjukan bahwa semua parameter uji masih berada di bawah baku mutu lingkungan,”

“Sedangkan hasil uji laboratorium oleh DLH Aceh Tengah paska uji coba operasi produksi, kabarnya limbah tersebut berada di atas baku mutu. Jika hasil audit lingkungan ditemukan kerugian lingkungan, maka pihak perusahaan harus bertanggungjawab secara hukum dan wajib melakukan pemulihan lingkungan,” lanjut Muhammad Nur.

Ia mengungkapkan, PT JMI memproduksi minyak Terpentin dan Gondorukem 8400 to per tahun, dengan bahan baku getah pinus yang berasal dari hutan pinus di Aceh Tengah.

Proses produksi perusahaan itu menggunakan bahan bakar batubara dan cangkang kelapa sawit.

“Artinya, keberadaan industri ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah Aceh, karena potensi pencemaran air dan udara cukup tinggi, terlebih industri ini berada di kawasan DAS Krueng Jambo Aye yang melintasi tiga kabupaten,” tambah Muhammad Nur.

Sebagai catatan penting bagi perusahaan ungkap Muhammad Nur, DAS Krueng Jambo Aye melintasi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Utara sebagai kawasan hilir. Sungai tersebut merupakan sumber penghidupan bagi banyak jiwa, usaha pertanian, industri, juga sebagai habitat biota sungai.

“Jangan sampai keberadaan PT JMI di hulu DAS Krueng Jambo Aye dapat menjadi ancaman dan munculnya bencana ekologi bagi masyarakat,” pungkas Muhammad Nur.

 

Facebook Comments Box

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button